LKP Munculkan Optimisme Usaha Tani yang Lebih Efisien di 7 Provinsi

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sebagai lembaga penghasil teknologi dan inovasi pertanian. Khusus di subsektor tanaman pangan melalui Puslitbang Tanaman Pangan (Puslitbangtan) pada tahun ini melaksanakan kegiatan “Peningkatan Produksi dan Daya Saing Tanaman Pangan dengan Penerapan Teknologi Presisi Menuju Pertanian 4.0” di tujuh provinsi yaitu Jawa Barat, DI Yogyakarta, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah validasi penerapan rekomendasi LKP secara partisipatif dengan melibatkan sejumlah petani kooperator di bawah koordinasi lapang Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Ketujuh provinsi tersebut sengaja dipilih untuk mewakili tiga agroekosistem padi  sawah irigasi (Jabar, DIY, Sumut), tadah hujan (Banten, NTT), dan pasang surut (Sumsel, Kalteng).

Pada seminar hasil kegiatan yang diselenggarakan Puslitbangtan secara hybrid di BPTP Sumut (16/11) lalu, terungkap bahwa peningkatan produktivitas padi sebesar 20 hingga 46 persen teramati dari hasil penerapan rekomendasi LKP pada lahan sawah irigasi di Jabar, DIY, dan Sumut. Petani yang tidak menerapkan rekomendasi LKP di ketiga provinsi tersebut memperlihatkan produktivitas 5,4 sampai 6,5 ton/ha gabah kering giling (GKG), sementara petani penerap rekomendasi LKP mampu meningkatkan produktivitas padinya hingga 6,5 sampai 8,2 ton/ha.

Di lahan sawah tadah hujan, teramati peningkatan produktivitas sebesar 19 hingga 27 persen di Banten dan NTT. Petani yang tidak menerapkan rekomendasi LKP di kedua provinsi memperlihatkan produktivitas 4,5 sampai 4,6 ton/ha GKG, sementara petani penerap rekomendasi LKP mampu meningkatkan produktivitas padinya menjadi 5,4 sampai 5,9 ton/ha.

Sedangkan peningkatan produktivitas tertinggi teramati dari hasil terapan rekomendasi LKP di lahan sawah pasang surut Sumsel dan Kalteng yang mencapai 50 sampai 74 persen. Akan halnya petani yang tidak menerapkan rekomendasi LKP di ketiga provinsi tersebut memperlihatkan produktivitas hanya berkisar 3,4 sampai 3,6 ton/ha gabah kering giling (GKG). Sementara itu, petani penerap rekomendasi LKP mampu meningkatkan produktivitas padinya hingga 5 sampai 6,2 ton/ha.

Meningkatnya harga pupuk dan berkurangnya subisidi yang dialokasikan Pemerintah membuat petani harus lebih memperhitungkan penggunaan saprodi terutama pupuk dengan tingkat hasil yang akan diperoleh. Pada kondisi ini, penggunaan perangkat lunak seperti LKP secara masif untuk penyuluh pertanian dan petani akan lebih efektif dan efisien dalam proses difusi inovasi teknologi dan peningkatan produksi padi nasional. LKP dapat memberikan rekomendasi pemupukan dan budi daya padi setelah petani memberikan informasi tentang keadaan usaha tani atas lahan yang akan diberikan rekomendasi serta target hasil yang ingin dicapai. Ke depan, bagaimana efektivitas LKP dan pendapat penyuluh petani serta validasinya perlu dievaluasi untuk terus menyempurnakan penggunaan LKP. Penerapan LKP di ketiga agroekosistem dapat meningkatkan produktivitas padi seperti yang ditargetkan

Seperti diketahui sebelumnya, Layanan Konsultasi Padi (LKP) merupakan teknologi hasil kerja sama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan International Rice Research Institute (IRRI) yang sebelumnya diberi nama Pemupukan Hara Spesifik Lokasi (PHSL). Teknologi ini merupakan akumulasi ilmu pengetahuan pemupukan padi dari IRRI dan Badan Litbang Pertanian (varietas unggul baru, sistem tanam jajar legowo, pengendalian hama penyakit utama) yang diformulasikan menjadi aplikasi berbasis web. Teknologi LKP diluncurkan pada akhir 2015 dan telah dievaluasi di agroekosistem lahan sawah irigasi, tadah hujan, dan rawa pasang surut.(NAS/HRY)

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar