Puslitbangtan Gelar Bimtek untuk Tingkatkan Produktivitas Jagung Petani di Majalengka

MAJALENGKA - Dalam rangka meningkatkan produktivitas jagung di Jawa Barat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) gelar bimbingan teknis (Bimtek) Pengelolaan Tanaman Terpadu Jagung Produktivistas Tinggi. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan PRN Jagung, yaitu Riset Pengembangan Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Pertumbuhan Produksi Jagung Produktivitas Tinggi.

Bimtek dilaksanakan selama 3 hari (14-15 Juli 2021) bertempat di Desa Cicurug, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Hadir pada acara tersebut Ir. I Putu Wardana, M.Sc selaku peneliti Puslitbangtan, Koordinator PPL BP3K Majalengka, Penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Majalengka, Ketua Gapoktan Sri Mujur Rahayu serta Ketua dan Anggota  Kelompok Tani Jatikersa, Buyut, dan Margamukti dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.  

Dalam sambutannya, Koordinator PPL BP3K Majalengka Edi Suhada yang mewakili pihak Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Majalengka menyampaikan bahwa Bimtek ini merupakan salah satu kegiatan penting bagi petani khususnya di Kecamatan Majalengka. Melalui Bimtek, menurutnya petani dapat belajar banyak tentang bagaimana mengelola tanaman jagung dengan teknologi budi daya yang baik. Sehingga, produktivitas jagung dapat ditingkatkan serta akan meningkatkan pendapatan petani.

“Kami akan siap membantu program pemerintah dalam mendukung peningkatan kapasitas SDM petani yang salah satunya melalui kegiatan Bimtek ini sehingga pengetahuan tentang inovasi teknologi budi daya jagung dapat dipahami dan diterapkan oleh petani setempat,” ujarnya.

Materi Bimtek disampaikan oleh Ir. I Putu Wardana, M.Sc. selaku narasumber sekaligus peneliti dari Puslitbangtan. Ia menjelaskan bahwa terdapat 11 kunci utama keberhasilan budi daya jagung untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi. Kunci utama tersebut antara lain: (1) penggunaan VUB jagung (hibrida/komposit) dengan potensi hasil tinggi, (2) penggunaan benih bermutu/berlabel, (3) sistem tanam dengan populasi optimal (66-75 ribu), (4) pemupukan berimbang berdasarkan status hara, (5) persiapan lahan yang baik, (6) pemberian bahan organik, (7) pengelolaan air yang baik (saluran irigasi dan drainase), (8) pembumbunan, (9) pengendalian gulma (penyiangan), (10)  pengendalian hama dan penyakit terpadu, (11) panen tepat waktu. Kesebelas aspek tersebut merupakan modal dasar yang harus terpenuhi dan dilakukan oleh petani dalam budi daya jagung agar target hasil tinggi dapat tercapai.

Pada kesempatan tersebut, beberapa VUB jagung Balitbangtan juga diperkenalkan pada Bimtek ini seperti Nasa 29, JH 37, JH 29, HJ 21, Srikandi Ungu 1, Pulut URI 1, Pulut URI 2, dan Pulut URI 3 H. Selain itu, sistem tanam legowo jagung dan pupuk hayati Agrimeth juga disampaikan kepada petani untuk melengkapi paket teknologi dalam budi daya jagung. Sistem tanam legowo yang direkomendasikan adalah legowo 2:1 dengan jarak tanam (40-90 cm) x 20 cm dan (50-80 cm) x 20 cm dengan 1 tanaman per lubang tanam. Begitu pun halnya dengan aspek pemupukan, pupuk hayati Agrimeth juga perlu ditambahkan pada saat tanam yang dikombinasikan dengan pupuk organik. Pupuk hayati Agrimeth memiliki peran penting dalam penyediaan hara bagi tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, dan meningkatkan kesuburan tanah karena mengandung bakteri penambat N, pelarut P, penghasil fitohormon, dan perombak bahan organik.

Catatan redaksi dari lokasi menyebutkan peserta sangat antusias menyimak materi yang disampaikan. Banyak pertanyaan yang diajukan dan berbagi pengalaman pada saat sesi diskusi dan tanya jawab. Oleh karenanya, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan ilmu dan pengetahuan baru terkait inovasi teknologi budi daya jagung dengan produktivitas tinggi serta menjadi bekal petani untuk mempersiapkan tanam jagung musim ini yang rencana akan dilakukan pada pekan depan. (ODP/HRY/Uje)

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar