The 10TH Ministerial of Agriculture Chiefs Scientist (MACS) G-20

Selasa – Rabu, 15 – 16 Juni 2021, Puslitbang Tanaman Pangan berkesempatan mengikuti The 10th Ministerial of Agriculture Chiefs Scientist (MACS) G-20 yang diselenggrakan secara virtual melalui platform digital Cisco Webex. Bertindak sebagai Chair pada Pertemuan ke-10th MACS G-20 Italia adalah Mrs. Graziella Romito, Director of international Relations, Ministry of Agricultural Food and Forestry Policies, Italia dengan tema ‘The role of science, technology, and innovation in sustainable food systems to improve food security and safety’.

Pada kesempatan welcome remark, Chair MACS G-20 menyampaikan tata tertib pelaksanaan pertemuan dan bagaimana mekanisme pemberian kesempatan berbicara bagi masing-masing Ketua Delegasi dari masing-masing Negara. Sebagai hasil utama yang diharapkan dari The 10th MACS G20 diantaranya untuk berbagi dan lesson learned untuk Negara-negara anggota G-20 selama mengatasi pandemi covid-19 dan agenda diakhiri dengan menghasilkan communique yang disepakati pada akhir pertemuan. Selanjutnya dilakukan presentasi CREA oleh Prof. Stefania de Pascale sebagai Vice President dari The Council for Agricultural Research and Economics (CREA). Profil lembaga CREA diungkapkan sebagai organisasi yang memiliki 12 pusat penelitian dimana 6 diantaranya terkait dengan supply chain yang spesifik dan 6 pusat penelitan terkait dengan topic horizontal yang menjalin struktur jejaring di seluruh Italia. Bidang keilmuan CREA meliputi hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, industry-pertanian, ilmu pangan dan sosial ekonomi dengan pegawai lebih dari 2000 orang dan setengahnya adalah peneliti dan teknolog. Perhatian CREA pada teknologi dan kontribusinya untuk mencapai produksi yang berkelanjutan dilakukan dengan system pertanian yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim, meningkatkan ketahanan dan keamanan pangan melalui teknologi terkini pemuliaan dan implementasi system pelacakan digital yang akan disampaikan pada pertemuan MACS di hari kedua.

Saudi Arabia selaku Chair pada pertemuan ke-9 Dr. Suliman Ali Al Khataab memberikan opening statement mengenai perlunya pembangunan pertanian berkelanjutan di masa pandemi. Bagaimana hasil communique disepakati pada pertemuan The 9th MACS G-20 terkait dengan kesepakatan menjaga keberlanjutan produktivitas pangan di lahan kering melalui pemanfaatan teknologi terobosan baik air, energi, dan hubungannya dengan pangan. Keseluruhannya disepakati pada pertemuan sebelumnya dan masih relevan di kondisi global pandemi covid-19 yang melanda dunia.

Indonesia sebagai Negara yang akan menjadi tuan rumah pada pertemuan ke-11 MACS G-20 berkesempatan menyampaikan opening statement dan dalam hal ini disampaikan oleh Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Dr. Ir. Priatna Sasmita, M.Si. Pesan dari opening statement tersebut antara lain komitmen pembangunan Indonesia pada RPJMN 2020-2024 terkait dengan pembangunan pertanian yang maju, mandiri dan modern dengan tujuan peningkatan daya saing dan keamanan pangan. Strategi yang menjadi target adalah peralihan dari sistem berbasis pendekatan produksi menjadi pendekatan sistem pangan. Termasuk didalamnya pendekatan pertanian modern dengan pemanfaatan mekanisasi pertanian, pertanian cerdas, food estates dan korporasi petani. Indonesia berharap pada pertemuan ke-10 MACS G-20 ini akan didiskusikan mengenai system pangan berkelanjutan selain juga mampu menjadi fondasi pada diskusi MACS mendatang.

Selanjutnya materi yang berkaitan dengan topik MACS G-20 ke-10 di hari pertama, yaitu: Digital Traceability oleh Marcellio Donatelli dari CREA dan Briefing on the UN Food System Summit (UNFSS) oleh Joachim von Braun. Intervensi Indonesia di Hari ke-1, 15 Juni 2021, disampaikan oleh Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, yang menyatakan bahwa: “Indonesia sangat mendukung kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Hal ini tercermin dari lahirnya berbagai kebijakan pertanian yang dirumuskan dari temuan-temuan ilmiah para peneliti. IT-based decision support system yang telah diaplikasikan dalam penelitian pertanian di Indonesia berupa rekomendasi unsur hara/pupuk dan kalender tanam tanaman pangan telah dilaksanakan secara intensif di tingkat nasional melalui program pemerintah. Adopsi teknologi digital saat ini masih terus berlangsung di Indonesia. Khusus untuk pertanian skala besar, penggunaan teknologi 4.0 dapat diadopsi dengan mudah. Lembaga penelitian di Indonesia terus berupaya mensosialisasikan kepada petani skala kecil dengan menggunakan program perusahaan. Riset dan Inovasi masih diperlukan untuk terus mengadaptasi teknologi ini. Kolaborasi penelitian dilakukan dengan multidisiplin dan multisektor. Selain itu, Indonesia Good Agriculture Practices (IndoGAP) juga telah diterapkan untuk menjamin kualitas produk pertanian yang dihasilkan oleh petani Indonesia. Penelitian tekait Genome Editing untuk menyediakan kultivar yang lebih baikjuga  telah dimulai dan sangat didukungoleh Pemerintah. Bersama dengan MACS, kami berharap ada tindakan nyata tentang topik ini di masa yang akan datang.

Materi yang berkaitan dengan topik MACS G-20 ke-10 dihari kedua yaitu New Breeding Techniques dari CIMMYT dan Briefing on COP26 - Koronivia disampaikan oleh Programme Officer UNFCCC Dirk Nemitz. Intervensi Delegasi Indonesia dihari ke-2, pada 16 Juni 2021, disampaikan oleh Kepala Puslitbangtan untuk menanggapi hal yang disampaikan narasumber mengenai New Breeding Techniques, yaituNew breeding techniques memiliki potensi yang sangat besar sebagai teknologi pelengkap dan pendukung pemuliaan konvensional jika sumber gen yang akan disilangkan tidak ada atau belum ditemukan dalam koleksi plasma nutfah. Genome editing memiliki potensi besar untuk mempercepat pemuliaan komoditas pertanian di era di mana perubahan iklim terjadi dengan cepat dan mempengaruhi laju peningkatan produksi pertanian di dunia. Dengan menggunakan teknologi terbaru ini, dimungkinkan untuk merakit tanaman unggul, yang meskipun prosesnya menggunakan teknologi DNA rekombinan tetapi produk akhirnya dapat dirancang untuk tidak mengandung DNA asing. Beberapa produknya tidak dapat dibedakan, baik secara fisik maupun genetik, dengan tanaman mutan konvensional sehingga di beberapa negara produk tersebut dianggap aman dan tidak diatur sebagai tanaman produk rekayasa genetika. Namun, Indonesia belum memiliki regulasi yang memadai mengenai pelaksanaan genome editing. Dari MACS G-20 ini kita dapat berbagi cerita sukses dari negara lain mengenai aspek regulasi. Peraturan yang telah dirumuskan di negara lain untuk tanaman yang diedit genom dapat dipertimbangkan untuk diadopsi di Indonesia, peraturan yang diterapkan di negara-negara peserta Protokol Cartagena. Langkah-langkah yang dilakukan negara lain dalam mengatur produk genome editing dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi di Indonesia, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif yang mendukung pemanfaatan teknologi potensial ini sekaligus memberikan jaminan keamanannya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Sementara itu, Indonesia memang sudah memiliki regulasi formal tentang pengawasan dan pengendalian varietas produk rekayasa genetik

Pertemuan ditutup dengan diskusi draft ke-4 communique sebagai hasil MACS G-20 ke -10 yang disepakati untuk diadopsi bersama.

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar