FGD Demfarm Riset Pengembangan Kolaboratif Inovatif Kedelai di Grobogan

Dalam rangka memfokuskan kegiatan riset dengan mengkolaborasikan satker lingkup Balitbangtan dengan pihak pemerintah daerah dan swasta, Badan Litbang Pertanian mencanangkan sebuah program unggulan yang dikenal dengan istilah Riset Pengembangan Kolaboratif Inovatif (RPIK). Melalui kolaborasi ini, upaya diseminasi hasil riset diharapkan akan menjadi lebih cepat sehingga mampu  diterapkan pada kawasan pengembangan dengan skala yang lebih luas.

Sebagai koordinator RPIK Kedelai, Puslitbang Tanaman Pangan (Puslitbangtan) melaksanakan kegiatan Demfarm Perbenihan seluas 116 Ha pada musim tanam (MT2) 2021 di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Lokasi kegiatannya tersebar di empat kecamatan yang melibatkan tujuh desa yaitu Kecamatan Toroh, Kecamatan Gabus, Kecamatan Ngaringan, dan Kecamtan Tanjungharjo. Sementara itu, varietas yang ditanam untuk kegiatan ini antara lain Biosoy 53 Ha, Detap 40 Ha dan Dena 23 ha. Output utama dari kegiatan ini adalah calon benih yang rencananya akan dibeli oleh Rumah Kedelai Grobogan (RKG) sebagai off-taker.

Meski demikian, untuk penajaman dan evaluasi kegiatan RPIK Kedelai yang sudah berjalan telah dilakukan Focus Group Discussion (FGD) di Rumah Kedelai Grobogan, Senin (21/06/2021). Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Puslitbangtan Dr. Priatna Sasmita,MSi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan  Dr.Sunanto, S.ST, M.P, Kepala BPSBTH Kabupaten Grobogan, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Grobogan, Manager Rumah Kedelai Grobogan, para penyuluh di masing-masing wilayah demfarm, serta perwakilan petani kooperator kegiatan. FGD membahas tentang proses sertifikasi benih, khususnya proses awal sertifikasi dan pengamatan lapang pada fase vegetatif termasuk beberapa masalah yang terjadi dan penyelesaiannya.

Pada kesempatan itu, Dr. Sunanto mengemukakan bahwa telah terjadi penurunan minat petani untuk menanam kedelai karena harga tidak menarik dan kalah bersaing dengan komoditas lain. Kegiatan RPIK Kedelai ini diharapkan dapat memotivasi petani untuk kembali menanam Kedelai di Grobogan.

Sementara itu di tempat yang sama, Kapuslitbangtan mengapresiasi kinerja tim RPIK kedelai UK/UPT Balitbangtan serta PEMDA Kab Grobogan termasuk semangat dari para PPL dan petani korporator. Ia berharap melalui kegiatan RPIK dapat dirumuskan model pengembangan kedelai berbasis kawasan luas.

Diskusi juga membahas rencana sisa tanam kedelai yang menjadi target program RPIK seluas 200 ha. Dari FGD ini diharapkan adanya sinkronisasi program antara kegiatan RPIK kedelai dengan program stakeholder sehingga kejayaan kedelai di Indonesia dapat terwujud dengan model di Kab. Grobogan (YN/MTP/HRY).

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar