Adopsi Teknologi dan Kelayakan Usahatani Jagung Hibrida pada Agroekosistem Lahan Kering


Dalam dua dekade terakhir permintaan jagung terus meningkat, khususnya untuk memasok kebutuhan industri pakan ternak. Pengembangan jagung hibrida harus terus ditingkatkan dalam rangka mencapai swasembada pangan berkelanjutan. Penerapan teknologi budi daya jagung di tingkat petani menjadi sangat penting dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji: (1) tingkat partisipasi petani dalam usahatani jagung; (2) tingkat penerapan teknologi budi daya jagung hibrida; dan (3) tingkat kelayakan us ahatani jagu ng hib rida p ada agroekosistem lahan kering. Pengkajian dilaksanakan di tiga desa penelitian Patanas pada tahun 2017, yaitu Desa Paccarammengan, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan; Desa Sindang Mekar, Garut, Jawa Barat; dan Desa Resongo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dengan menggunakan metode survei. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terhadap 66 petani contoh dengan pengisian kuesioner terstruktur. Data yang terkumpul diolah dengan tabulasi silang dan dianalisis untuk mengukur tingkat kelayakan usahatani berdasarkan gross B/C, profitabilitas, dan titik impas produksi. Hasil penelitian menunjukkan usahatani jagung di lokasi penelitian menguntungkan dengan gross B/C 3,06-3,18 tanpa sewa lahan dan 1,77-1,98 dengan sewa lahan. Titik impas hasil jagung di Desa Sindang Mekar adalah Rp 1.915 kg tanpa sewa lahan dan Rp 3.021 kg dengan sewa lahan, sementara di Desa Resongo 1.561 kg/ha tanpa sewa lahan dan 2.511 kg/ha dengan sewa lahan. Data ini menunjukkan stabilitas produktivitas dan harga jagung di lokasi penelitian tergolong baik.


Kata kunci: Jagung, penerapan teknologi, partisipasi petani, kelayakan usahatani, titik impas.

Penulis : Saptana, Tri Bastuti Purwantini, dan Annisa Rika Rachmita
Institusi : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Topik : Usaha tani
Kategori : Jagung
Kata kunci :
Halaman : 181-190
Download : PP02032018-Saptana.pdf