Peningkatan Produksi Padi Gogo Melalui Pendekatan Model Pengelolaan Tanaman

Hasil identifikasi peluang dan kendala pengembangan padi gogo di Desa Rama Murti, Kecamatan Seputih Raman - Lampung adalah ; petani umumnya menanam varietas lokal dan kualitas benihnya rendah, pengendalian gulma kurang intensif, pemupukan kurang tepat dan kurang berimbang, kurang modal, dan adanya gangguan penyakit blas leher dan hama (terutama tikus). Berdasarkan hasil evaluasi bersama (partisipatif) antara petani, penyuluh dan peneliti sepakat mengadakan petak percontohan sekitar 5,0 ha yang dilaksanakan petani. Teknologinya menggunakan beberapa varietas unggul, penambahan pupuk organik, jarak tanam jajar legowo (30 x 20 x 10) cm, 4-5 butir/lubang, pupuk berimbang (210 kg urea berdasarkan pembacaan sekala bagan warna daun/BWD, 100 kg SP 36 dan 100 kg KCl/ha). Hasil rata-rata pertanaman tahun pertama lintas 10 orang petani dan 6 varietas padi pada demplot model PTT padi gogo mencapai 4,30 t/ha GKG.
 
Kisaran hasil dari 3,88 t/ha (Situ Bagendit) sampai 4,69 t/ha (Batu Tegi). Varietas lain yang mencapai diatas 4,0 t/ha GKG adalah; Limboto, Way Rarem, Situ Patenggang dan Galur BP 1153C-8-60. Pertanaman petani (kontrol) varietas Limboto (campuran dengan Sirendah/lokal) hanya mencapai 3,37 t/ha. Untuk pertanaman musim kedua terpilih varietas; Batu Tegi, Limboto dan Situ Patenggang dan hasil rata-rata GKG lintas 8 petani mencapai 5,93 t/ha dengan kisaran 5,53 – 6,20 t/ha. Hasil tertinggi dicapai varietas Batu Tegi dan terendah varietas Situ Patenggang. Hasil pertanaman musim ketiga lintas 12 petani yang tertinggi juga varietas Batu Tegi diikuti Limboto dan Situ Patenggang masing-masing mencapai: 5,39; 5,32 dan 4,77 t/ha dengan rata-rata 5,16 t/ha. Analisis statistik menunjukkan bahwa antara varietas Batu Tegi dan Limboto tidak berbeda nyata, tetapi dengan varietas Situ Patenggang keduanya berbeda nyata. Berdasarkan hasil rata-rata tiga tahun penelitian mencapai 5,690 t/ha GKP, pendapatan rata-rata mencapai Rp 5226 000,- dengan kisaran Rp 4 807 000,- sampai Rp 5 957 100,-. Perhitungan pendapatan tersebut berdasarkan harga gabah saat panen Rp 1 000,-/kg dan Rp 900,-. Biaya tetap Rp 2 783 000,- dan biaya tidak tetap Rp 651 970,- maka keuntungan rata-rata mencapai Rp 2044 730,-. Kisaran biaya produksi antara Rp 3 245 000,- sampai Rp 3 650 710,- (biaya tenaga kerja 44%, bahan 37%, dan lain-lain 19%) dengan kisaran keuntungan antara Rp 1506 300,- sampai Rp 2 320 500,-. Rata-rata nisbah pendapatan dan biaya adalah 1,60 dengan kisaran 1,46 sampai 1,70. Berdasarkan angka nisbah pendapatan/biaya ini, dengan keuntungan sekitar 60% selama 4 bulan pertanaman masih mencapai bunga rata-rata 15% dan berarti masih layak menurut perhitungan bunga bank, walaupun masih menanggung cukup banyak resiko. Selama penelitian pengembangan model PTT padi gogo berlangsung, juga dilakukan serangkaian penelitian komponen teknologi untuk memperbaiki pola dasar yang sedang dikembangkan.

Download :  pttgogo.zip


Arsip Repositori