Perakitan Varietas Unggul Jagung Fungsional

Jagung (Zea mays L.,) sebenarnya merupakan tanaman purba yang berasal dari Amerika Latin (Meksiko, Guatemala, dan Honduras). Tanaman jagung didomestikasi sekitar 8.000 tahun yang lampau oleh bangsa Indian, merupakan keturunan jagung liar teosinte (Zea mays ssp. Parviglumis). Melalui proses evolusi, adaptasi, migrasi, rekombinasi gen-gen, dan kegiatan petani menanamnya sambil melakukan seleksi massa, akhirnya menjadi tanaman jagung seperti sekarang ini. Petani telah membudidayakan jagung selama berabad-abad dan merupakan penyeleksi utama. Mulai abad ke-20 pemulia telah memperbaiki bentuk morfologi jagung melalui perbaikan genetik, sehingga keturunan teosinte telah berubah menjadi jagung modern yang berkembang ke seluruh pelosok dunia (King dan Edmeades 1977). Kini jagung telah menjadi tanaman kosmopolitan dan merupakan komoditas pangan terpenting ketiga dunia setelah padi dan gandum. Di Indonesia jagung berasal dari negara-negara Asia, diperkirakan diintroduksi pada abad ke-12. Varietas dan strain lokal yang bersifat spesifik terdapat di sentra-sentra produksi jagung. Di Indonesia sendiri, jagung menjadi komoditas pangan andalan kedua setelah padi. Pemulia tanaman jagung di Indonesia telah berperan dalam perakitan varietas unggul selama empat dasawarsa terakhir. Varietas unggul yang dihasilkan pada tahun 2000an mampu memberi hasil 10-12 t/ha untuk varietas hibrida dan 7-8 t/ha untuk varietas bersari bebas. Sebelumnya, varietas lokal hanya dapat berproduksi 2,5-4,0 t/ha. Sekitar 80% petani Indonesia saat ini telah menanam varietas unggul hibrida atau varietas unggul bersari bebas hasil pemuliaan tanaman. Kini petani jagung tidak lagi menaman varietas lokal, kecuali varietas lokal yang hasil bijinya ditujukan untuk penggunaan khusus, seperti jagung biji putih untuk pangan pokok dan pangan kudapan, jagung pulut untuk direbus, jagung berbiji kecil untuk pakan burung. Jagung merupakan sumber utama karbohidrat yang sangat penting setelah padi dan gandum, digunakan sebagai bahan pangan pokok, pakan, bioetanol, dan bahan baku industri. Kandungan karbohidrat jagung 73-75% lebih tinggi dibandingkan dengan gandum dan millet yang hanya 64% dan beras 76,2%. Dalam endosperm biji jagung terdapat kalsium, besi, fosfor, natrium, dan kalium (Suarni dan Widowati 2007). Yasin et al. (2007) melaporkan bahwa biji jagung yang telah masak fisiologis terdiri atas perikarp 6%, endosperm 82%, dan embrio/lembaga 12%. Komposisi gizi ini menjadi penting bagi penderita diabetes dan merupakan bahan makanan alternatif utama.


Download :  PerakitanVarietas.pdf


Arsip Repositori