Pengendalian Tikus Sawah

Tikus sawah merupakan hama utama tanaman padi yang dapat menyebabkan kerusakan mulai dari saat pesemaian hingga padi siap dipanen, bahkan dapat menyerang padi di dalam gudang penyimpanan. Hama tikus menyebabkan kehilangan hasil yang kronis dimana sebagian besar wilayah telah mengalami peningkatan pola tanam yang intensif setiap tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangbiakan tikus sawah pada tanaman padi terutama terjadi pada periode padi stadia generatif. Dalam satu musim tanam terjadi tiga kali kelahiran tikus dengan jumlah anak rata-rata 10 ekor untuk setiap kelahiran. Jumlah anak terbanyak terjadi pada kelahiran pertama dan menurun pada kelahiran berikutnya. Strategi pengendalian tikus sawah terutama harus dilakukan pada saat populasi tikus masih rendah dan mudah pelaksanaannya yaitu pada periode awal tanam, dengan sasaran menurunkan populasi tikus betina dewasa sebelum terjadi perkembangbiakan. Membunuh satu ekor tikus betina dewasa pada awal tanam, setara dengan membunuh 80 ekor tikus setelah terjadi perkembangbiakan pada saat setelah panen (Sudarmaji et al. 2005).

Pengendalian hama tikus dilakukan dengan pendekatan pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) yaitu pengendalian tikus yang didasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinir dengan cakupan sasaran pengendalian dalam skala luas.

Metode TBS (trap barrier system) adalah salah satu cara untuk pengendalian tikus pada pertanaman padi. Metode ini telah diuji dan terbukti efektif dalam menurunkan tingkat kerusakan oleh tikus jika dibandingkan menggunakan bahan kimiawi yang dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Metode TBS ini dilakukan dengan cara pemagaran secara sederhana dengan pagar plastik atau terpal dan dilengkapi dengan perangkap bubu atau jebakan yang dipasang pada pintu masuk. Penggabungan antara perangkap bubu dan tanaman perangkap untuk menarik dan menjebak tikus masuk ke dalam TBS.

TBS terdiri dari: 1) tanaman perangkap yaitu padi ditanam 3 minggu lebih awal, berukuran 25 m x 25 m untuk 10-15 ha, 2) pagar plastik atau terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu, bagian bawahnya terendam air, dan 3) bubu perangkap dipasang pada setiap sisi TBS, dibuat dari ram kawat dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 50 cm, dilengkapi pintu masuk tikus berbentuk corong, dan pintu untuk mengeluarkan tangkapan tikus. Pada penerapannya di lapangan, petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik.


Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Download :  


Arsip Repositori