Variasi Efisiensi Koloni Wereng Hijau Nephotettix Virescens Distant dan Virulensi Inokulum Tungro

Varietas tahan wereng hijau, maupun tahan tungro merupakan komponen pengendalian utama dalam pengendalian terpadu penyakit tungro yang ditularkan oleh wereng hijau, Nephotettix virescens. Dari 7 sumber gen tahan wereng hijau yang ada, empat gen tahan telah digunakan dalam merakit varietas tahan di Indonesia. Utri Merah, Utri Rajapan, Habiganj dan ARC adalah asesi yang tersedia untuk perakitan varietas tahan virus. Agar pergiliran varietas tahan dipraktekkan petani untuk memperpanjang durasi ketahan varietas, diperlukan usaha terus-menerus merakit varietas dengan berbagai sumber ketahanan berdasarkan variasi efisiensi vektor dan virulensi virus yang sesuai dengan preferensi konsumen.

Variasi efisiensi koloni wereng hijau terhadap varietas tahan diuji dengan uji penularan. Koloni wereng hijau diambil dari daerah endemis tungro di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Koloni-koloni wereng tersebut diuji kemampuannya menularkan tungro dengan inokulum dari tanaman sakit di Bogor. Variasi efisiensi koloni wereng hijau diidentifikasi berdasarkan kemampuannya menularkan tungro pada 4 golongan varietas tahan wereng hijau berdasarkan gen tahan tetuanya. Variasi virulensi sumber inokulum tungro dari daerah endemis tungro di Jawa dan Bali diuji dengan uji penularan. Tanaman bergejala tungro (inokulum virus) diambil dari suatu lokasi dari berbagai daerah endemis tungro di Jawa dan Bali. Wereng hijau koloni Sukamandi digunakan sebagai vektor untuk menularkan virus dari tanaman sakit yang diambil dari berbagai daerah. Varietas yang digunakan adalah Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, Bondoyudo, dan Pelita sebagai kontrol peka. Kesesuaiaan tetua/varietas dilihat indek penyakit hasil penularan.

Dari hasil pengujian diketahui terdapat variasi efisiensi kemampuan menularkan tungro pada berbagai golongan varietas tahan antar koloni wereng hijau. Urutan tingkat kemampuan wereng hijau dari tinggi ke rendah adalah koloni NTB, Bali, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, D.I. Yogyakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sedangkan urutan ketahanan varietas terhadap koloni wereng hijau dari tahan ke peka adalah varietas tahan dengan gen tahan glh4, Glh6, Glh1 dan Glh5. Tetua dengan gen tahan Glh-1 dapat digunakan untuk perakitan varietas yang akan digunakan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Gen tahan Glh-2 tidak dapat digunakan untuk Bali dan NTB. Gen tahan Glh-6 dapat digunakan untuk Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Sulawesi Selatan. Gen tahan Glh-5 tidak direkomendasikan untuk digunakan lagi. Gen tahan glh-4 dapat digunakan hampir disemua lokasi kecuali di NTB. Gen Glh-7 dapat digunakan di Bali maupun NTB.

Keberdaan tungro pada varietas yang baru dilepas bervariasi, hal tersebut menunjukkan adanya variasi virulensi antar sumber inokulum. Keberdanaan tungro dan skor gejala tungro terendah pada varietas Tukad Petanu, sedangkan tertinggi pada varietas Tukad Unda. Urutan ketahanan varietas lainnya adalah varietas Bondoyudo, Kalimas dan Tukad Balian. Sumber inokulum yang paling virulen adalah sumber inokulum dari Jabar dan Yogyakarta, sedangkan yang paling tidak virulen sumber inokulum dari Jatim. Inokulum Bali dan Jateng virulensinya hampir sama. Dengan demikian Varietas Tukad Petanu sesuai untuk seluruh daerah endemis tungro di Jawa dan Bali, sebaliknya varietas Tukad Unda. Varietas Tukad Balian sesuai untuk di daerah Jatim dan Bali. Varietas Bondoyudo tidak sesuai ditanam di Jawa tetapi sesuai untuk ditanam di Bali. Kalimas tidak sesuai ditanam di Jawa Barat dan Yogyakarta. Sumber tetua tahan virus Utri Merah, Utri Rajapan, Habiganj dan ARC dapat digunakan hampir pada semua lokasi kecuali untuk ARC tidak dianjurkan untuk digunakan di D.I. Yogyakarta.


Download :  widiarta.rar


Arsip Repositori