System of Rice Intensification (SRI) dan Peluang Peningkatan Produksi Padi Nasional

Pemerintah telah mentargetkan swasembada beras dan bahkan surplus beras sebanyak 10 juta ton pada tahun 2014, melalui program peningkatan produksi beras Nasional (P2BN). Program ditempuh antara lain melalui penerapan dan pengembangan System of Rice Intensification (SRI), selain SL-PTT dan GP3K. Oleh karena paket teknologi SRI ini relatif baru, maka kinerja SRI di lapang perlu dievaluasi sejak awal program, mengingat pada tahun 2013 dan 2014 target untuk pengembangan SRI adalah 200.000 ha dan 250.000 ha, sedangkan pada 2012 ditargetkan hanya 35.000 ha dari asalnya 11.920 ha tahun 2011.

Prinsip dasar metode SRI adalah bertani secara ramah lingkungan, rendah asupan luar (low external input), menerapkan kearifan lokal (indigenous knowledge), membatasi  penggunaan bahan kimia baik pestisida maupun pupuk. Metode SRI merupakan paket budidaya padi yang komponen-komponen utamanya  telah mempertimbangkan beberapa hal sbb: (a) penghematan input, seperti benih cukup 7 - 10 kg/ha, karena jarak tanam yang diterapkan lebar yaitu 30-50 cm x 30-50 cm dan hanya 1 bibit per lubang, (b) bersih lingkungan, karena tidak menggunakan pestisida kimia dan diganti dengan pestisida nabati dalam perkembangannya; dan (c) pemanfaatan sumber lokal, seperti pupuk kandang, kompos dari sisa-sisa tanaman dan pemanfaatan mikroorganisme lokal (MOL). Metode SRI sebenarnya mirip dengan cara budi daya petani di Indonesia sebelum “Revolusi Hijau” dahulu. Hanya saja pada masa lampau kondisi alam, ekonomi dan budayanya seperti itu, yaitu (1) belum ada tuntutan untuk berproduksi tinggi, karena memang jumlah penduduk masih terbatas dan beras cukup untuk dikonsumsi; (2) pupuk kimia belum tersedia termasuk pestisida;  (3) keragaman hayati, musuh alami tinggi sehingga ledakan hama tidak pernah terjadi; (4) kesuburan tanah dan kandungan bahan organik tinggi secara alami; (5) ketersediaan air berlimpah namun juga tidak banjir, atau tidak kekeringan karena cadangan air tersimpan baik dalam tanah yang terkonservasi, dengan daya dukung lahan masih kuat; (6) varietas padi yang ditanam bertipe tumbuh lambat berumur panjang (4-6 bulan) sehingga kebutuhan hara per harinya rendah (Makarim dan Suhartatik 2006). Bandingkan dengan kondisi pertanian sekarang yang dituntut  untuk hasil tinggi dalam waktu singkat (

Metode SRI ini di luar negeri dilaporkan dapat mencapai hasil di atas 10 ton GKG/ha. Hasil padi di Bhairawa, Nepal cara petani menghasilkan 5,26 - 6,76 t/ha, dan cara SRI pada jarak tanam 30 cm x 30 cm 6,32 - 8,86 t/ha dan SRI dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm menghasilkan 7,71-9,68 t/ha, kesemuanya kurang dari 10 t/ha dan jarak tanam 20 cm x 20 cm lebih baik dibandingkan 30 cm x 30 cm (Uphoff dan Satyanarayana 2005).  Di Indonesia dengan keragaman kondisi lingkungan pertanian seperti iklim, sifat tanah, ketersediaan air, SDA, SDM, hama dan penyakit, serta pengelolaannya, maka metode SRI yang berupa paket teknologi masih perlu diuji. Tujuan penelitian ini adalah sbb: (1) melihat keragaan sistem SRI di lapang (input produksi, keragaan pertanaman, dan hasil); dan (2) penilaian atas  peluang pencapaian produksi padi Nasional.

Download :  tca.phtml