Teknik Produksi Ubi Jalar Bebas Virus

Share this Post


Ubi jalar merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang di dalamnya terkandung sumber karbohidrat setelah komoditas gandum, beras, jagung dan singkong. Oleh karena itu, di beberapa daerah memanfaatkan ubi jalar sebagai bahan makanan pokoknya.

Tanaman yang diduga berasal dari Benua Amerika ini, sangat mudah dibudidayakan, karena komoditas yang juga dikenal dengan nama ketela rambat ini relatif mudah tumbuh serta memiliki produktivitas cukup tinggi. Meski demikian, dalam praktiknya, ubi jalar seringkali harus berhadapan dengan penyakit sejenis virus yang berdampak langsung terhadap penurunan hasil dan kualitas. Akibat serangan virus ini diperkirakan dapat menurunkan hasil berkisar antara 65% – 72%. Berdasarkan uji serologi dilaporkan terdapat enam jenis virus yang menyerang tanaman ubi jalar yaitu Sweetpotato Feathery Mottle Virus (SPFMV), Sweetpotato Mild Mottle Virus (SPMMV), Sweetpotato Chlorotic Fleck Virus (SPCFV), Sweetpotato Latent Potyvirus (SPLV), Sweetpotato Virus-6, dan Sweetpotato Virus-8.

Dari informasi yang diperoleh redaksi menyebutkan bahwa tanaman ubi jalar yang terinfeksi virus mengalami gejala seperti perubahan warna: bercak klorotik, mosaik, belang (mottle) berwarna ungu, perubahan bentuk (malformasi) daun, hambatan pertumbuhan (kerdil), dan daunnya berwarna kecoklatan. Oleh karena itu, upaya untuk memperoleh hasil panen ubi jalar yang diharapkan dan terhindar dari virus, diperlukan penyediaan benih ubi jalar berkualitas yaitu benih yang jelas identitas genetiknya, daya tumbuh baik, dan bebas hama penyakit.

Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk menghasilkan benih ubi jalar bebas virus yaitu menggunakan kultur meristem secara in vitro. Teknologi kultur jaringan memiliki prospek untuk digunakan dalam perbanyakan benih secara cepat dan bebas dari hama penyakit. Berbeda dengan perbanyakan benih ubi jalar yang dilakukan secara vegetatif yaitu menggunakan batang atau sulur. Teknik tersebut sangat rentan terinfeksi oleh virus, sehingga menyebabkan virus terakumulasi dari generasi ke generasi sehingga menyebabkan terjadinya penurunan viabilitas, produksi serta kualitas ubi jalar itu sendiri.

Berikut  beberapa langkah yang dilakukan dalam produksi benih ubi jalar bebas virus secara in vitro, tehnik ini diawali dengan penyiapan umbi ubi jalar hasil panen. Setelah itu, umbi disterilisasi kemudian ditumbuhkan tunas umbinya pada media tanah yang sudah steril dari hama dan penyakit. Selanjutnya, tanaman yang tumbuh pada umbi yang bebas dari virus kemudian diperbanyak melalui kultur in vitro. Sedangkan tanaman yang terdeteksi dan terserang virus dipisahkan dan selanjutnya dilakukan kultur meristem untuk memperoleh tanaman bebas virus.

Untuk mengetahui tanaman ubi jalar mengalami serangan virus atau tidak, dapat dilakukan pengujian dengan menggunakan 3 metode yaitu: Metode Deteksi Tanaman Indikator, Metode ELISA dan Metode PCR. Namun, dari ketiga metode tersebut metode ELISA dapat mendeteksi virus pada tanaman ubi jalar dengan cepat dan akurat. Sehingga, metode ini telah menjadi protokol yang umum untuk mendeteksi virus.

Metode ELISA menguji serologi menggunakan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay atau disingkat dengan ELISA. Adanya reaksi enzimatic pada tanaman ubi jalar mengindikasikan adanya virus pada tanaman yang diuji. Reaksi warna yang dihasilkan oleh sampel yang diuji kemudian dibandingkan dengan kontrol (negatif), selanjutnya sampel yang menunjukkan reaksi positif dieliminasi.

Metode estimasi visual tidak cukup efektif untuk mendeteksi semua tanaman yang terinfeksi, namun metode serologi (ELISA) dan tanaman indikator dapat mendeteksi virus dengan cepat dan akurat, sehingga telah menjadi protokol yang umum untuk deteksi virus. (Uje/HRY)