Puslitbangtan Gelar FGD Potensi Pengembangan Sorgum Di Jawa Timur

Share this Post


Dalam rangka menggali informasi untuk merumuskan rekomendasi kebijakan tentang pengembangan sorgum di Jawa Timur, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman  Pangan (Puslitbangtan) mengadakan Focus Group Discusion (FGD) secara hybrid (daring dan luring) dengan tema “Potensi Pengembangan Sorgum

Sebagai Subtitusi Produk Bahan Impor Di Sentra Produksi Sorgum Di Jawa Timur” di BPTP Jawa Timur, Rabu (02/11/2022). FGD dibuka oleh Kepala Puslitbangtan Dr. Ir. Priatna Sasmita dan diikuti oleh para stakeholder yang terkait dengan pengembangan sorgum di Jawa Timur. Mulai dari petani sorgum, pelaku usaha (off taker), hingga pihak pemerintahan yang diwakili oleh Dinas Pertanian Kab. Lamongan, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, peneliti BRIN serta para staf BPTP Jawa Timur.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Balitseral Dr. Amin Nur yang menjadi narasumber pertama menyampaikan materi mengenai keunggulan dan teknologi tanaman sorgum di Indonesia. Ia menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi dalam budi daya sorgum seperti ketersediaan benih sumber bersertifikat yang masih terbatas, masih rendahnya jumlah penangkar benih sorgum yang berpengalaman, pengendalian OPT dan pascapanen benih sorgum yang belum optimal, serta belum adanya rekomendasi varietas yang dibutuhkan off-taker. Selain itu, disampaikan pula keunggulan dari tanaman sorgum yang merupakan tanaman serealia potensial, dimana semua bagian tanaman memiliki nilai ekonomi. Bijinya sebagai sumber pangan memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi, dapat menjadi subtitusi tepung terigu untuk berbagai produk olahan roti dan kue. Daun dan batang sebagai sumber pakan berfungsi meningkatkan bobot hewan ternak dan meningkatkan produksi susu. Selain itu, penanaman sorgum pada lahan kering dapat mengoptimalisasi pemanfaatan lahan kering/marginal dan lahan yang tidak diusahakan sehingga dapat menambah pendapatan petani.

Sementara itu, pemateri kedua Pipit Wahyuningsih SP. M.Agr., Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Jawa Timur memaparkan materi tentang “Potensi Pengembangan Sorgum dan Persiapan Kegiatan Tahun 2023 pada Provinsi Jawa Timur”. Adapun pemateri berikutnya adalah Defi Isnaini SP. M.Si., Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Lamongan yang memaparkan materi tentang potensi dan kendala pengembangan komoditas sorgum di Kab. Lamongan. Menurut keduanya, sorgum merupakan tanaman yang telah dibudidayakan sejak lama di Jawa Timur. Sehingga, dalam aspek budidaya hasil yang dicapai oleh petani cukup tinggi dengan rata – rata 6,5 ton/ha. Dengan target pengembangan lahan sorgum pada tahun 2023 mencapai 16.850 ha, kebutuhan benih untuk budidaya sorgum menjadi hal yang krusial. Selain itu, pentingnya pangsa pasar dan terjaminnya harga jual sorgum di tingkat petani merupakan aspek yang perlu mendapat perhatian dalam menjamin keberlanjutan pengembangan sorgum di Jawa Timur. 

Ir. Irwan dari Asosiasi Kagumi (Komunitas Sorgum Indonesia) yang menyampaikan materi tentang Peluang dan Tantangan Industri Berbahan Baku Sorgum menjadi pemateri terakhir. Ia menyampaikan pengalaman membangun kelembagaan sorgum yang berawal dari pengembangan penangkar benih sorgum. Menurutnya, dukungan pemerintah sangat penting dalam penyediaan peralatan budidaya, panen dan pascapanen di level petani. Hal lainnya adalah pendampingan yang terintegrasi dan pemetaan kebutuhan sorgum yang terkluster termasuk dukungan regulasi tanaman sorgum dari hulu ke hilir.

Saat memasuki sesi diskusi, terungkap bahwa untuk mendapatkan minat pembeli, petani/UMKM harus fokus pada produk dan mengutamakan kualitas produk yang memilki standar dan varietas sorgum yang konsisten dan disukai oleh para off-taker. Dari segi teknologi pengolahan, sudah banyak produk turunan sorgum yang dapat dikembangkan. Misalnya saja roti tawar, cookies, mie, tepung sorgum, dan sebagainya. Tepung sorgum sudah bisa mendekati produk yang dihasilkan oleh tepung gandum sehingga untuk menjadi bahan subtitusi dari tepung gandum merupakan hal yang potensial. Walaupun saat penepungan terkendala dengan proses penyaringan yang mana produk buangannya lebih banyak. Namun, hal ini masih bisa diolah menjadi produk samping lainnya yang bernilai ekonomi. Pada sisi lain, keberadaan alat penyosoh sangat penting untuk sorgum dan sebaiknya tersedia di banyak lokasi agar petani mudah mengaksesnya.

Di akhir pertemuan, Kepala Puslitbangtan menyampaikan bahwa pada tiap level pengembangan sorgum mempunyai potensi peluang dan kendalanya masing - masing. Meski demikian, yang menjadi catatan penting adalah pengembangan sorgum di Jawa Timur saat ini masih bersifat parsial dan belum terintegrasi. Para stakeholder pengembang sorgum khawatir akan ketersediaan benih bermutu. Salah satu solusinya adalah desentralisasi benih di lokasi pengembangan. Penyiapan benih sumber dapat diproyeksikan dari luas tanam yang sudah ditargetkan pada wilayah pengembangan sorgum. Bagian yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana mengintegrasikan pengembangan sorgum dari hulu ke hilir, sehingga ke depan pengembangan sorgum di tingkat petani dapat terus berlanjut. (NRP/BP/Hry)