Antisipasi Krisis Pangan, Kapuslitbangtan Kunjungi Sentra Sorgum Di Jawa Timur

Share this Post


Ancaman krisis pangan global akibat pandemi COVID-19, perubahan iklim dan ketegangan politik dunia telah membawa dampak yang signifikan terhadap stabilitas kehidupan masyarakat internasional termasuk Indonesia. Mulai dari penurunan produksi, kenaikan harga pangan, kenaikan biaya produksi, gangguan distribusi hingga adanya restriksi ekspor negara lain. 

Terkait itu, Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menanggulangi persoalan tersebut. Salah satunya adalah melalui pengembangan pangan substitusi impor seperti sorgum. Tanaman serealia yang satu ini mulai dilirik untuk mensubstitusi impor gandum yang terus mengalami peningkatan hingga lebih dari 12 juta ton setiap tahunnya. Sorgum merupakan salah satu tanaman pangan yang memiliki nilai manfaat tinggi. Tanaman ini memiliki kandungan karbohidrat setara beras dan berprotein tinggi. Sehingga, dapat menjadi komoditas yang mendukung diversifikasi pangan mengurangi ketergantungan pangan beras. Terlebih kandungan nutrisi sorgum dinilai baik dan memiliki daya adaptasi luas. 

Menyikapi hal tersebut, Kepala Puslitbang Tanaman Pangan (Puslitbangtan), Dr. Ir. Priatna Sasmita, M.Si, bersama Sub-Koordinator Kerja Sama Penelitian dan staf Pendayagunaan Hasil Penelitian melakukan kunjungan ke sentra sorgum Desa Pucakwangi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, pada Selasa (2/11). Kunjungan dilakukan dengan tujuan menggali informasi untuk merumuskan rekomendasi kebijakan pengembangan sorgum di Jawa Timur. Saat di lokasi, Kepala Puslitbangtan diterima oleh Camat Kecamatan Babat, Johny Indrianto Firmansyah, STP, M.Si dan Kepala Desa Pucakwangi yang juga merupakan Ketua Poktan Sumber Arum dan Pembina UMKM pengelola produk berbahan sorgum Desa Pucakwangi, Bagus Cahyo K. SP, serta PPL Kecamatan Babat. 

Informasi yang diperoleh dari lokasi di Kecamatan Babat menyebutkan, umumnya pola tanam yang diterapkan adalah padi-padi-palawija dalam satu tahun. Sorgum biasanya ditanam pada musim tanam ketiga setelah padi. Sedangkan varietas yang banyak ditanam adalah Bioguma dengan produktivitas 5 ton/ha. Adapun luas tanam eksisting untuk lahan sorgum di kecamatan ini adalah 190 ha. Pada sisi lain, petani di Kecamatan Babat ini biasanya mengolah sorgum selain menjadi beras sorgum juga mengolahnya menjadi berbagai macam produk samping seperti tepung sorgum, silase, briket, dan media tanam jamur. Tepung sorgum ini banyak dimanfaatkan UMKM sebagai bahan susbtitusi tepung terigu untuk pembuatan makanan ringan seperti cookies, cake, roti, mie, minuman kekinian (boba), dan keripik. Sementara itu, biomas sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan silase dan briket. 

Kendati demikian, masih terdapat kendala teknis budi daya dan pascapanen dalam pengembangan sorgum di Kabupaten Lamongan. Pada sektor hulu, hama tikus dan burung masih menjadi ancaman utama produktivitas sorgum. Sebaliknya, di sektor hilir, proses pascapanen sorgum masih terkendala dengan belum optimalnya penggunaan alsintan. Penyosohan biji sorgum tidak semudah penyosohan padi. Demikian pula dengan proses penepungan biji sorgum yang masih harus melalui beberapa tahap. Hal ini menyebabkan harga produk olahan sorgum belum bisa bersaing dengan produk olahan pangan lainnya. Olah karena itu, perlu upaya dukungan alsintan yang optimal untuk mengurangi biaya produksi sehingga produk olahan sorgum mampu berkompetisi di pasaran. (NRP/BP)