4 Galur Harapan Baru Kacang Tanah Untuk Penuhi Kebutuhan Gizi Masyarakat

Share this Post


Salah satu komoditas aneka kacang yang kaya akan sumber protein adalah kacang tanah. Mengapa demikian?  Hal ini tidak lepas karena komoditas ini merupakan sumber pangan bergizi tinggi yang kaya akan lemak dan protein. Selain itu, kacang tanah juga menyandang status sebagai salah satu panganan yang menjadi sumber protein nabati dengan harga jauh lebih murah bila dibandingkan sumber protein hewani. Alhasil, masyarakat pun dapat memenuhi kebutuhan gizinya tanpa harus merogoh koceknya terlalu dalam.

Tak hanya itu, kacang tanah juga berpotensi menjadi salah satu komoditas yang dapat mendukung program diversifikasi pangan pemerintah. Apalagi pada setiap 100 g biji kacang tanah mengandung 452 kkal energi, 43 g lemak, 25 g protein, 21 g hidrat arang, 58 mg kalsium, 335 mg fosfor, 1,3 mg besi, 0,3 mg vitamin B, 3 mg vitamin C dan 4 g air.

Varietas-varietas unggul baru kacang tanah yang ada saat ini memiliki kadar lemak pada biji antara 40-49% bk, dan kadar protein antara 18-32% bk. Kadar lemak pada biji yang terendah pada varietas Takar 2 dan tertinggi varietas Talam 3, sedangkan kadar protein terendah pada Varietas Tala 2 dan tertinggi pada Varietas Takar 2.

Sampai saat ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi telah berhasil menyeleksi sejumlah galur harapan dengan kadar lemak yang lebih tinggi yaitu berkisar antara 50,5 – 52,7 g/bk. Galur-galur harapan ini akan diseleksi kembali untuk kemudian diusulkan menjadi varietas unggul baru.

Dari galur tersebut, totalnya ada 4 galur dengan warna kulit ari masing-masing  yaitu galur yang memiliki warna kulit ari biji merah, galur dengan warna kulit ari ungu, dan galur yang memiliki warna kulit ari merah muda (rose). Galur yang memiliki kadar protein pada biji berkisar antara 28,1 – 29,6 g/bk diantaranya adalah galur dengan kulit ari biji berwarna merah, serta galur dengan warna kulit ari merah muda (rose).

Keempat galur tersebut juga sebagian termasuk tipe Spanish (1 polong 2 biji) dan dan sebagian tipe Valencia (3-4 biji/polong) dengan rata-rata produktivitasnya 2,1 – 3,2 t/ha polong kering. Umur masaknya bervariasi antara 93-96 hari dan tinggi tanaman antara 53-67 cm, jumlah polong rata-rata antara 25-48 polong per tanaman, dengan bobot biji berkisar 38,8 – 57,6 g/100 biji. Galur (Bi-SL/RK 39)-36, (BI-SL/UML 18)-34, (BM/IC-631-8/UML 18)-38, (BM/IC-154-2/UML 18)-31, dan (Bi-SL/Lokal Papua)-42, yang berkadar lemak tinggi dan juga galur (BM/IC-154-2/Lokal Papua)-43, (BM/IC-631-8/Lokal Papua)-37, (BM/IC-631-8/RK 39)-46, dan (BM/IC-154-2/Lokal Papua)-45 yang berkadar protein tinggi cukup prospektif sebagai calon VUB. Selain provitasnya yang tinggi, sifat lain galur ini adalah juga tahan terhadap penyakit utama dan berbiji besar. Meski demikian, uji adaptasi lanjutan diperlukan untuk memastikan keragaan dan stabilitas karakter serta hasilnya.

Informasi lain diperoleh menyebutkan bahwa kandungan rata-rata 44% minyak pada setiap biji kacang tanah juga menjadi kelebihan tersendiri dari komoditas ini. Angka tersebut bervariasi antarvarietas, antara 42-63% bk, sehingga kacang tanah cukup potensial untuk menjadi sumber minyak. Di Cina, lebih dari 50% produksi kacang tanah dipergunakan dalam industri minyak kacang. Setelah minyak diekstrak dari biji, biji kacang menjadi bahan industri pangan yang kaya protein (50-55% bk). Kandungan minyak ini berasosiasi dengan ukuran bijinya. Apabila kacang tanah jenis biji besar lebih disukai sebagai bahan industri olahan /confectionary, sebaliknya ukuran biji menjadi tidak terlalu penting bagi industri minyak. (Uje/HRY/Balitkabi)