Bimtek Aplikasi Reactive Rock Phosphate Lahan Kering Masam Tanaman Jagung

Lahan kering merupakan salah satu agroekosistem sumberdaya lahan yang mempunyai potensi besar untuk pengembangan pertanian. Lahan jenis ini didefinisikan sebagai suatu hamparan lahan yang tidak pernah digenangi atau tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun.

Pada prinsipnya, lahan kering dibedakan menjadi dua jenis lahan yaitu lahan kering masam dan non masam. Di Indonesia, seluas 102,8 juta ha dari total luas lahan kering sekitar 148 juta ha tersebut merupakan lahan kering masam yang sesuai untuk usaha pertanian.

Dalam rangka meningkatkan indeks pertanaman di lahan kering masam di Provinsi Lampung, Badan Litbang Pertanian melalui UPT-nya menyelenggarakan Bimbingan Teknis tentang pengaplikasian Fosfat Alam Reaktif di lahan kering masam untuk tanaman Jagung yang diselenggarakan pada 4 Agustus 2018 di Kebun Percobaan Taman Bogo, Balai Penelitian Tanah, Lampung Timur.

Pada kesempatan tersebut, peneliti Balitsereal Ir Syafruddin MS menyampaikan bahwa produksi jagung di lahan masam akan menghasilkan produksi yang optimal apabila didukung dengan paket teknologi budidaya yang sesuai. Badan Litbang Pertanian sebagai lembaga penelitian di bawah Kementerian Pertanian telah menghasilkan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman jagung hingga 30%. Hanya  menambahkan rock fosfat dengan dosis 1 ton/ha yang diberikan 1 kali selama 5 musim tanam dikombinasikan dengan pupuk kandang, kisaran hasil jagung yang diperoleh berkisar antara 10-12 ton/ha.

Sementara itu, di tempat yang sama, Kabid KSPHP Dr. Agus Wahyana Anggara yang hadir mewakili Kapuslitbangtan mengemukakan bahwa Provinsi Lampung adalah provinsi penghasil jagung nomor 3 secara nasional. Untuk meningkatkan prestasi tersebut, solusinya adalah penanaman benih jagung dengan menggunakan varietas unggul baru. Balitsereal selaku UPT Puslitbangtan telah melepas varietas jagung JH47 yang toleran kekeringan serta rata-rata hasilnya mencapai 10,8 ton/ha.

Hadir pada Bimtek ini antara lain pejabat eselon III mewakili Ka.Puslitbangtan dan Ka. BBSDLP, peneliti Balitsereal, peneliti Balittanah, peneliti Balitklimat,  BPTP Sumatera Barat, BPTP Lampung, Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Timur serta dari Gapoktan dan Poktan dari Lampung Timur. (HRY/RTPH/Uje)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar