DETAM, Si Hitam Manis dari Balitkabi

Kita mungkin hanya mengenal kedelai hitam sebagai bahan pembuat kecap ataupun tauco. Namun, di negara lain kedelai hitam sudah diolah menjadi beragam makanan seperti burger, ice-cream, dan lain beragam pangan olahan lainnya. Di Indonesia kedelai hitam belum dikenal secara luas. Mungkin karena warnanya yang hitam, membuat kedelai ini kurang menarik untuk dikonsumsi. Padahal, jika dikonsumsi secara rutin, selain baik bagi kesehatan tubuh, juga bermanfaat bagi kesehatan kulit.

Tidak hanya memiliki protein yang tinggi, tetapi kedelai hitam juga memiliki kandungan antosianin tinggi yang konon dapat digunakan sebagai senyawa antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas penyebab sel kanker dan penuaan dini, pencegah tumor dan kardiovaskular. Selain itu kedelai hitam juga kaya akan vitamin E serta Magnesium.

Kedelai hitam sangat tinggi kandungan nutrisinya. Kedelai hitam adalah salah satu sumber asam lemak omega-3 berbasis sayuran terkaya, dan dikemas dengan vitamin dan mineral termasuk vitamin A, besi, magnesium, dan seng. Telah banyak penelitian tentang kedelai hitam saat ini, terutama isoflavon pada lapisan benih, yang telah diuji dan memiliki berbagai macam manfaat, termasuk pengobatan kanker, metabolisme lemak dan penurunan berat badan, efek anti-inflamasi, kemampuan antimikroba dan pembekuan darah.

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Aneka kacang dan Umbi (Balitkabi) telah berhasil merakit Varietas kedelai hitam berumur genjah yang diberi nama Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida. Varietas ini jika diolah dengan baik akan memiliki nilai jual yang tinggi dan bisa dimanfaaatkan untuk bisnis industri kecap. Penggunaan kedelai hitam bermutu tinggi untuk bahan baku kecap tidak hanya meningkatkan kualitas warna kecap menjadi coklat hitam, juga akan meningkatkan nilai gizi terutama protein.

Detam 3 Prida mempunyai potensi hasil tinggi, hingga 3,2 t/ha dengan rata-rata hasil 2,9 t/ha, berumur genjah (75 hari), memiliki ukuran biji 11,8 g/100 biji dan agak toleran kekeringan. Sedangkan Detam 4 Prida mempunyai potensi hasil mencapai 2,9 t/ha (rata-rata 2,5 t/ha), umur masak 76 hari, ukuran biji 11 g/100 biji, toleran kekeringan pada fase reproduktif, berumur genjah, agak tahan hama pengisap polong dan juga agak tahan terhadap penyakit karat daun.

Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif mengatasi perubahan iklim, khususnya kekeringan dan dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan akibat kehilangan hasil (biji) melalui varietas kedelai berumur genjah serta toleran terhadap kekeringan, khususnya pada periode terkritis yakni fase reproduktif. (RTPH/LEN)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar