Largo Super Bergema di Purwosedar, Jawa Barat

Model pengembangan  teknologi budi daya Larikan Padi Gogo Super di bawah tegakan tanaman perkebunan atau lebih dikenal dengan sebutan Largo Super semakin gencar disosialisasikan oleh Puslitbang Tanaman Pangan. Menyusul sosialisasi sebelumnya yang telah dilakukan di wilayah Yogyakarta, upaya menyebarkan ide-ide baru mengenai teknologi budi daya padi gogo tersebut kembali digelar pada Rabu (5/9) di Desa Purwosedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi oleh Tim Pelaksana Kegiatan Largo Super Puslitbangtan yang terdiri dari Kabid KSPHP, Peneliti Senior Puslitbangtan dan BBSDLP, serta tim pendukung dari BPTP Jabar dan Penyuluh BP3K. 

Dalam kegiatan yang juga dihadiri oleh Camat dan perwakilan Dinas Pertanian setempat, peneliti senior Puslitbangtan Prof Made Oka Adnyana memberikan penjelasan secara umum mengenai teknologi largo super kepada lebih dari 60 petani yang hadir. Ia mengatakan varietas padi gogo yang telah dihasilkan oleh Balitbangtan biasa disingkat dengan nama “Inpago 1-12”. Larikan Gogo (Largo) Super merupakan teknologi budidaya terpadu padi lahan kering (gogo) berbasis tanam jajar legowo 2:1 dengan menerapkan beragam komponen teknologi hasil Balitbangtan. Umurnya bisa lebih pendek dari padi lahan irigasi dan juga bisa ditanam di lahan kering terbuka seperti halnya yang telah dilakukan di Kebumen, Jawa Tengah. Lebih jauh, diharapkan olehnya para petani nantinya juga dapat menghasilkan benih.

Sementara itu, Kabid KSPHP Puslitbangtan Dr Agus Wahyana mengemukakan bahwa teknologi Largo Super telah diuji keunggulannya melalui demarea (Kecamatan Puring, Kebumen, Jawa Tengah pada 2017 – awal 2018). Model budi daya ini terdiri dari beberapa komponen teknologi antara lain: (a) tanam jajar legowo 2:1; (b) benih bersertifikat VUB: Inpago 8, ,10, dan 12; (c) aplikasi Biodekomposer Agrodeko; (d) pupuk hayati Agrice Plus sebagai seed treatment, dan (e) pemupukan berimbang berdasarkan (PUTK); (f) Pengendalian (OPT) dengan pestisida nabati Bioprotektor; dan (g) pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali serta Tanam dengan  Alsintan sistem larikan (ATABELA).

Untuk varietas, Inpago 8, 10, dan 12 sengaja dipilih karena rasa nasinya yang pulen. Namun, nantinya juga akan diadakan varietas Rindang 1 dan 2. Di sisi lain, aplikasi decomposer AGRODEKO memiliki beberapa keunggulan seperti cepat menurunkan C/N 15-25% lebih cepat 7 – 14 hari. Kompos tidak berbau busuk bahkan mengandung mikroba untuk kesuburan tanah dan ramah lingkungan.

Pada dasarnya, Model Pengembangan Teknologi Budidaya Largo Super di Bawah Tegakan Tanaman Perkebunan ini bertujuan untuk mempercepat peningkatan produksi dan provitas padi gogo melalui penerapan VUB potensi hasil tinggi, memverifikasi dan scalling up teknologi largo super di bawah tegakan perkebunan, dan mempercepat diseminasi benih unggul baru (Rindang 1 dan Rindang 2).

Terkait lahan dan ketersediaan benih, ditegaskan kembali oleh eselon III yang juga berstatus peneliti ini bahwa kegiatan Largo Super di Desa Purwosedar tersebut tidak akan mengganggu tanaman utama yang ada di lokasi.  Sedangkan untuk ketersediaan benih, Puslitbangtan dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyediakan benih tersebut sampai ke lokasi. Hal ini menjadi penting karena saat ini di Desa Purwosedar sudah mulai turun hujan dan petani setempat memiliki kebiasaan langsung serempak menanam begitu hujan datang.

Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura yang hadir mewakili Kepala Dinas Pertanian setempat menyatakan dukungannya terhadap “pilot project” Largo Super di bawah Tegakan Tanaman Perkebunan ini. Ia menegaskan bahwa semua sepakat untuk mewujudkan capaian hasil 7 – 8 ton. Apabila kegiatan ini berhasil, ia akan mengusulkan ke Provinsi. Terlebih, para petani yang hadir telah menyatakan kesiapannya menerapkan budi daya  Largo Super di Bawah Tegakan Tanaman Perkebunan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Prof Made Oka, seandainya teknologi ini mampu menghasilkan produksi dan pendapatan petani, maka sebaiknya Dinas terkait dapat merekomendasikan kepada pihak Pusat sehingga berpotensi menjadi kebijakan nasional. “Mari kita bersama-sama bersatu tunjukkan hasil kerja kita,” tandasnya menyemangati semua.

Akhirnya, tepat sebelum sosialisasi usai digelar. yel-yel optimis ala Timnas Indonesia pun menggema di Balai Desa Purwosedar, “Siapa Kita?…Siapa kita? Largo Super. (HRY)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar