Tingkatkan Kapasitas, Workshop Tingkat Kesiapterapan Teknologi Balitbangtan Digelar

Sebagai salah satu lembaga riset di Indonesia, Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan banyak teknologi. Meski demikian, catatan yang ada selama ini menyebutkan bahwa belum semua teknologi yang telah dihasilkan dapat diadopsi seluruhnya oleh pengguna. Salah satu penyebabnya adalah tingkat kematangan teknologi itu sendiri. Menyikapi hal ini, Balitbangtan melalui Balai Pengelola Alih Teknologi (BPATP) bekerja sama dengan SMARTD mengadakan workshop “Penerapan Pengukuran Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) Balitbangtan” pada 25-26 Juli 2018 di Sentul, Bogor. Workshop ini sebagai langkah sosialisasi sekaligus upaya meningkatkan kapasitas inventor lingkup Balitbangtan dengan harapan tingkat adopsi teknologi Balitbangtan akan semakin luas ke depannya.

Dijelaskan dalam workshop, TKT merupakan sebuah indikator yang menunjukkan seberapa siap suatu teknologi untuk diterapkan. TKT ini dinilai dari Sembilan tingkat yang terbagi menjadi tiga kategori atau tahapan penelitian yaitu penelitian dasar (tingkat 1 – 3), penelitian terapan (tingkat 4 - 6), dan penelitian pengembangan (tingkat 7 – 9). Meski demikian, kesiapterapan teknologi ini dapat dikembangkan dari dua perspektif yang berkaitan yaitu perspektif obyektif dan subyektif. Perspektif obyektif menunjukkan seberapa siap suatu teknologi dapat diterapkan sesuai fungsinya. Sebaliknya, perspektif subyektif menunjukkan seberapa siap pengguna dapat mengadopsi suatu teknologi baru untuk diterapkan.

Dalam praktiknya, peserta melakukan pengukuran TKT itu sendiri dengan menggunakan sebuah perangkat lunak yang disebut Teknometer. Perangkat lunak ini merupakan suatu perangkat yang berbasis spreadsheet dari Microsoft Excell dengan tiga lembar kerja/worksheet. Lembar kerja 1 berisi tampilan ringkasan hasil pengukuran TKT seperti: nama teknologi dan judul teknologi, sedangkan lembar kerja 2 merupakan himpunan dari indikator setiap tingkatan TKT. Adapun lembar kerja 3 merupakan tingkatan TKT dan penjelasannya.

Sebanyak 68 teknologi ikut dalam workshop yang digelar selama dua hari tersebut. Tujuh di antaranya adalah teknologi litbang tanaman pangan yaitu Budena (VUB Dena 1 dan 2), Largo Super Padi (VUB Padi Gogo), Model Pengembangan Teknologi di Lahan Bukaan Baru Padi (VUB Padi), Paket SUT Jagung, Paket Teknologi Toleran Kekeringan dan Naungan Jagung, Teknologi Potensi Anti Fertilitas VCD terhadap Hormone Reproduksi Tikus Sawah Betina, dan Formulasi Insektisida Pengendali Wereng Coklat Menggunakan Surfaktan DEA dari Metil Ester Olein Sawit.    

Menurut Sekretaris Badan Litbang Pertanian Dr. Prama Yufdi, Teknologi yang dihasilkan Balitbangtan perlu untuk dilihat tingkat kesiapterapan teknologinya agar kesesuaian rencana dan hasil penelitian dapat sejalan. Di sisi lain, eselon II yang pernah menjabat sebagai Kapuslitbanghorti itu juga menyampaikan bahwa kegiatan penelitian harus berorientasi terhadap kebutuhan. “Wacana pemerintah untuk menggabungkan Badan Litbang di seluruh kementerian dan lembaga negara menuntut setiap Badan Litbang untuk dapat menunjukan hasil kerjanya dalam memajukan penelitian di Indonesia,” katanya mengingatkan.(HRY/EDA/UJE)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar