Mengendalikan Jamur Tular Tanah pada Tanaman Kedelai dengan TRICHOL-8

Tanaman kedelai hingga saat ini masih menjadi target swasembada yg belum tercapai. Rendahnya tingkat produksi kedelai salah satunya disebabkan karena masalah hama dan penyakit pada tanaman kedelai. Serangan hama dan penyakit pada tanaman kedelai berpotensi menurunkan kualitas hasil dan ketidakseimbangan hara di tanah yang tidak hanya berdampak terhadap penurunan produksi dan potensi hasil, namun juga menyebabkan tanaman lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Dengan berkembangnya dan ditemukannya varietas-varietas kedelai baru, jenis patogen (penyebab penyakit) yang menyerang kedelai juga berkembang. Suatu penyakit pada waktu yang lalu kurang penting bisa berubah status menjadi penyakit yang penting dikemudian hari, seperti halnya yang terjadi pada penyakit tular tanah. Penyakit tular tanah dapat mengakibatkan kerugian hingga 50% seperti yang pernah terjadi di KP. Kendalpayak, Malang. Namun demikian pengendalian terhadap penyakit tular tanah ini belum menjadi proritas. Pengendalian yang umum dilakukan untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan menggunakan fungisida kimia.

Gejala yang paling nampak pada tanaman yang terserang penyakit tular tanah yaitu tanaman menjadi  layu. Pangkal batang dikolonisasi oleh miselium berwarna putih. Pada kondisi tertentu, ditemukan sekumpulan sklerotia berwarna cokelat berbentuk butiran. Cendawan ini dapat menginfeksi mulai awal pertumbuhan hingga fase genertaif, sehingga populasi tanaman menjadi berkurang terutama pada kondisi tanah yang lembab.

Jamur antagonis Trichoderma sp (TRICHOL-8)merupakan biopestisa yang efektif untuk mengendalikan penyakit tular tanah pada tanaman kedelai maupun kacang-kacangan lainnya. Trichoderma sp hidup dan berkembang di dalam tanah, sifatnya saprofitik, dan mampu memanfaatkan bermacam-macam senyawa organik sebagai sumber karbon dan nitrogen.

Kelebihan pengendalian dengan Trichoderma antara lain 1) Praktis karena dapat dilakukan waktu tanam sebagai perawatan benih, atau ditabur setelah tanaman tumbuh; 2) Relatif murah karena sekali diaplikasikan dapat bekerja dalam jangka panjang; 3) Pembiakannya mudah dilakukan oleh petani; 4) Efektif mengendalikan jamur patogen tular tanah; dan 5) Tidak menimbulkan ketahanan terhadap jamur patogen, dan tidak mencemari lingkungan serta aman bagi manusia (Lila/Uje/RTPH).

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar