Optimalisasi Lahan Rawa untuk Meningkatkan Produksi Padi Nasional

Kebutuhan pangan nasional terutama beras terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, sementara lahan subur untuk usaha pertanian semakin berkurang. Memanfaatkan lahan rawa merupakan salah satu pilihan untuk pemenuhan lahan bagi peningkatan produksi padi nasional. Badan Litbang Pertanian telah menyediakan berbagai inovasi teknologi seperti teknologi pengelolaan air dan tanah ( tata air mikro, penataan lahan, ameliorasi dan pemupukan), varietas baru yang adaptif serta alat dan mesin pertanian.

Rawa adalah lahan genangan air secara alamiah yang terjadi secara terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus fisika, kimiawi dan biologis. Luas lahan rawa di Indonesia mencapai sekitar 33,43 juta ha. Kawasan itu tersebar di pantai timur dan utara Pulau Sumatra, pantai barat, selatan, dan timur Pulau Kalimantan, pantai barat dan timur Pulau Sulawesi, serta pantai selatan Pulau Papua. Hasil kajian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertanian, ada sekitar 7,9 juta ha memiliki potensi untuk dibuka (ekstensifikasi lahan).

Setidaknya ada 6 alasan mengapa lahan rawa dinilai potensial sebagai lahan pertanian, terutama saaat musim kemarau. Pertama, yang membuat kawasan rawa potensial adalah karena adanya stok air yang melimpah. Air berlimpah dan tersedia secara in situ sehingga tinggal diolah tata kelola airnya agar sesuai dengan pola tanam. Kedua, adalah lahan yang dibuka lebih cepat pulih dan segera dapat ditanami karena tersedia cukup air. Ketiga, saluran air yang dibuat di kawasan rawa dapat sekaligus berfungsi sebagai sarana transportasi. Keempat, sekitar 90% lahan rawa berada pada dataran rendah, sehingga lebih mudah diolah menjadi lahan pertanian. Kelima, lahan rawa potensial dikembangkan justru ketika musim kemarau tiba. Karena, kandungan air di dalam tanah menyusut sehingga area tanam menjadi lebih luas. Oleh karena itu, musim panen akan tiba ketika lahan sawah sedang tidak berproduksi, yakni pada September hingga Desember. Sehingga dapat mengisi defisit beras. Keenam, hasil biji-bijian dan tanaman rimpang yang ditanam di area rawa dinilai lebih kaya dengan kandungan Se dan Fe. Hal ini terjadi karena lahan rawa banyak mengandung endapan mineral.

Kementerian Pertanian mencatat bahwa kontribusi pertanian lahan rawa terhadap produksi nasional (2015) dari total produksi nasional sekitar 14% dari total produksi 75,5 juta ton. Namun demikian, budidaya padi lahan rawa menjanjikan hasil yang tidak sedikit bila dikelola dengan baik. Nyatanya, Penggunaan varietas unggul yang cocok dan adaptif merupakan salah satu komponen teknologi yang nyata kontribusinya terhadap peningkatan produktivitas padi. Dengan memadukan sistem tanam jajar legowo 5:1, menggunakan varietas unggul padi rawa serta penggunaan pupuk kandang dari kotoran sapi dan ayam, petani di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi bisa menghasilkan padi 6 ton/ha. Sebelum menerapkan sistem tanam ini, petani hanya mampu memperoleh 3 ton/ha
Optimalisasi lahan rawa swamp land pasang surut dan rawa lebak sebagai lahan pertanian yang luasnya mencapai 10 juta hektare tersebar di seluruh wilayah Indonesia menjadi fokus Kementerian Pertanian saat ini. Berkaitan dengan program ini, Balitbangtan melalui Balai Besar Penelitian Padi telah merakit varietas padi Inbrida lahan rawa. Terakhir inbrida padi rawa dihasilkan adalah INPARA 8 AGRITAN dan INPARA 9 AGRITAN yang dilepas tahun 2014 lalu. Kedua varietas ini toleran terhadap keracuan Fe dan cocok ditanam di lahan pasang surut, lebak dangkal dan pertengahan. (RTPH/LL)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar