Pendatang Baru pada Lahan Kering Dataran Tinggi

Secara umum sistem pertanian di Indonesia, khususnya yang menyangkut budidaya pertanian tanaman pangan dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu pertanian lahan basah/sawah dan pertanian lahan kering.

Semakin meningkatnya alih fungsi lahan, disinyalir peluang penggunaan lahan sawah untuk usaha pertanian semakin menyempit sehingga harus ada pengalihan penggunaan lahan kering.

Lahan kering di dataran tinggi selain untuk tanaman hortikultura, sangat potensial juga untuk perluasan areal tanam padi. Namun, usaha pengembangan tersebut saat ini dihadapkan pada permasalahan tidak tersedianya varietas unggul yang adaptif pada lahan tersebut.

Varietas padi lokal yang potensi hasilnya rendah antara 1-2 ton/ha GKG dan umurnya 150-180 hari masih menjadi andalan petani di lahan kering dataran tinggi untuk ditanam. 

Varietas padi gogo Luhur 1 dan Luhur 2 yang baru dilepas diharapkan dapat diadopsi oleh petani  lahan kering dataran tinggi dalam upaya mendukung keberlanjutan produksi pangan nasional. Dari serangkaian uji adaptasi yang dilaksanakan di 10 lokasi yang mewakili agroekosistem padi gogo dataran tinggi (700-1.000 mdpl),  varietas Luhur 1 memiliki rata-rata hasil sebesar 4,81 ton/ha GKG, toleran terhadap kekeringan fase vegetative dan berespon moderat terhadap keracunan aluminium, bereaksi agak tahan sampai dengan tahan terhadap 6 ras penyakit blas, dan memiliki mutu beras yang baik dengan tekstur nasi pulen (kadar amilosa 21%).

Varietas Luhur 2 memiliki rata-rata hasil sebesar 4,55 ton/ha GKG, dengan potensi hasil sebesar 6.86 ton/ha GKG, berumur genjah, toleran terhadap kekeringan, toleran keracunan Aluminium, bereaksi agak tahan sampai tahan terhadap 9 ras penyakit blas utama, memiliki mutu beras yang baik dengan tekstur nasi sedang (kadar amilosa 24%). (RTPH/Uje)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar