Dua Profesor Riset Baru di Puslitbangtan

Dua orang peneliti senior Puslitbang Tanaman Pangan, Dr. Ir. Hasil Sembiring, M.Sc dan Dr. Ir. Made Jana Mejaya, M.Sc, baru saja menyelesaikan Orasi pengukuhan profesor riset di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Kampus Penelitian Cimanggu, Bogor hari ini (9/4/18). Selain dua peneliti dari Puslitbang Tanaman Pangan, turut dikukuhkan pula Dr. Ir. Sahardi, MS yang merupakan peneliti di BPTP Sulawesi Selatan. Orasi pengukuhan ini adalah pengukuhan Profesor Riset Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, yang ke 129, 130  dan 131.

Dr. Ir. Hasil Sembiring, M.Sc menyampaikan orasi untuk bidang Ilmu Tanah, Agroklimatologi dan Hidrologi dengan judul Inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi berbasis Konservasi Sumberdaya Tanah dan Air Menuju Sistem Pertanian Presisi. Dalam orasinya di depan Majelis Pengukuhan Profesor Riset dan Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Hasil Sembiring menyampaikan bahwa PTT padi berbasis konservasi sumberdaya tanah dan air yang dicirikan dengan sistem pertanian yang presisi diharapkan mampu menjawab tantangan untuk mempertahankan kemandirian dan kedaulatan pangan nasional secara berkelanjutan, serta menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. Menurutnya, Inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu pada usahatani padi berperan dalam peningkatan produksi pangan, ditengah-tengah semakin meningkatnya tantangan yang dihadapi, terutama meningkatnya degradasi lahan akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebih, sehingga banyak lahan yang “sakit”.  Penerapan PTT secara luas diharapkan mampu memperbaiki kesuburan tanah sehingga dapat dicapai peningkatan produktivitas minimal 20%, dan menekan biaya produksi. Untuk itu diperlukan reinovasi teknologi PTT pada masing-masing agroekosistem. Dalam konteks kedaulatan pangan, percepatan penerapan pertanian presisi merupakan susatu keharusan menuju ‘Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045’ serta mewujudkan ‘Petani Indonesia Yang Sejahtera’

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Dr. Ir. Made Jana Mejaya juga menyampaikan orasi untuk bidang pemuliaan dan genetika tanaman. Orasi dengan judul Pengembangan Varietas Unggul Jagung Hibrida Adaptif Lahan Kering Mendukung Swasembada Jagung Berkelanjutan memaparkan tentang dinamika perkembangan jagung hibrida di Indonesia, perakitan varietas unggul jagung hibrida, potensi, tantangan serta arah, sasaran dan strategi pengembangan varietas unggul jagung hibrida adaptif lahan kering. Menurutnya, hasil riset Litbang Pertanian untuk pemuliaan jagung tidak kalah dengan yang dihasilkan perusahaan Multinasional.  Untuk benih jagung Bima-3 misalnya, yang dihasilkan Profesor Made Mejaya, pada kondisi cekaman kekeringan, Bima-3 mampu menghasilkan  rata-rata 6,59 ton/ha. Jumlah produksi ini 11,5%  lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa varietas yang dihasilkan perusahaan Multinasional.  Namun bila dilihat ditingkat petani penggunaan Bima-3  jauh lebih sedikit, karena belum baiknya proses hilirisasi yang dilakukan Badan Litbang Pertanian.  Untuk itu Lembaga Litbang Pemerintah perlu upaya khusus dalam membenahi proses perbanyakan inovasi serta upaya hilirisasinya agar dapat mendukung tercapainya swasembada jagung nasional yang berkelanjutan serta jagung sebagai komoditas ekspor menuju lumbung pangan dunia.

Ucapan selamat dan apresiasi juga disampaikan Menteri Pertanian Dr. Amran Sulaeman melalui sambutannya yang dibacakan langsung oleh Kepala Badan Litbang. Beliau mengatakan bahwa orasi kali ini terasa istimewa karena ketiga kandidat profesor riset  menyampaikan teknologi yang berkaitan erat dengan program utama Kementan, terutama dalam UPSUS PAJALE.  Ketiga orasi yang disampaikan sangat menarik dan sangat terkait dengan  peningkatan produksi pangan Nasional. Tantangan juga diberikan kepada ketiga Prof Riset untuk lebih berperan dalam pengembangan teknologi padi dan jagung agar swasembada padi dan jagung dapat berkelanjutan. (RTPH/LEN)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar