Sorgum, Potensi Yang Belum Tersentuh

Berkaitan dengan program diversifikasi pangan di Indonesia, sorgum menjadi serealia yang paling potensial digunakan sebagai substitusi beras karena kandungan gizinya yang setara dan produktivitas bijinya tinggi. Secara teknis, Sorgum (Sorghum bicolor L.) memiliki daya adaptasi yang luas, karenanya mempunyai potensi besar untuk dapat dikembangkan di Indonesia. Dibandingkan dengan tanaman palawija yang lain, tanaman sorgum memiliki keunggulan jika dilihat karakter biologisnya karena tanaman ini toleran terhadap kekeringan dan genangan air, dapat berproduksi pada lahan marginal, serta relatif tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Namun demikian, pemanfaatan sorgum masih belum banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sampai saat ini, tanaman Sorgum kebanyakan dimanfaatkan untuk keperluan pakan maupun industri.

Tanaman yang lazim dikenal masyarakat Jawa dengan nama “cantel” atau dalam beberapa bahasa lokal di Flores yang dikenal dengan “watar” ini sekeluarga dengan tanaman serealia seperti  padi, jagung, dan gandum serta tanaman lain seperti bambu dan tebu. Sorgum memiliki tinggi rata-rata 2,5 sampai 4 meter. Pohon dan daun sorgum sangat mirip dengan jagung. Jenis sorgum manis memiliki kandungan nira yang tinggi pada batang gabusnya sehingga berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber bahan baku gula sebagaimana halnya tebu. 

Beberapa penelitian menyebutkan kandungan protein pada biji sorgum sangat tinggi. Dibandingkan sumber pangan lain seperti beras, singkong dan jagung, sorgum mempunyai kadar protein yang paling tinggi. Sorgum memiliki keunggulan mineral seperti Ca, Fe, P dan kandungan vitamin B1 dibandingkan dengan beras. Meski pun demikian, saat ini sorgum belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini dikarenakan sorgum sendiri belum mencapai taraf pengembangan yang memuaskan. Nilai jual sorgum dilihat belum potensial sebagaimana produk serealia yang lain seperti beras, jagung, gandum dan kacang-kacangan. 

Pengembangan sorgum sebagai sumber pangan masih terbatas karena berbagai kendala teknis pasca panen dan pengolahan. Proses pengolahan sorgum sebagai tanaman pangan di Indonesia tersendat-sendat akibat kurangnya fasilitas. Karakteristik biji sorgum yang memiliki kulit lebih keras daripada padi, membuat proses pengolahan sorgum memerlukan alat penggiling khusus. Itu sebabnya sorgum masih dikonsumsi secara terbatas dan diolah secara tradisional. Padahal potensinya cukup besar sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras.

Sorgum bukan tanaman asli Indonesia sehingga keragaman genetik yang ada masih terbatas sehingga diperlukan upaya perbaikan varietas tanaman melalui program pemuliaan tanaman.  Hal itu dilakukan untuk memperbaiki sifat-sifat sorgum yang sudah ada sehingga menjadi lebih unggul dibanding dengan tanaman asalnya. Misalnya, tanaman menjadi lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, berproduksi lebih tinggi, dan memiliki kualitas hasil yang lebih baik. 

Balai Penelitian Tanaman Serealia, merupakan balai penelitian di bawah Badan Litbang Pertanian yang diberi mandat untuk meneliti dan mengembangkan komoditas ini. Sebanyak 6 varietas sorgum sudah dihasilkan oleh Balitsereal diantaranya, Varietas Kawali, Numbu, Super 1, Super 2, SURI 3 dan SURI 4. Kedepannya, diharapkan Balitsereal tidak hanya menghasilkan varietas unggul namun juga mengembangkan varietas tersebut agar varietas tersebut  dapat dapat ditanam secara luas, utamanya di lahan marjinal yang sering kali diabaikan. (LEN/RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar