Melirik Teknologi Largo Super

Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045 merupakan target jangka panjang sektor pertanian. Target ini sudah mulai diwujudkan secara bertahap antara lain melalui keberhasilan Indonesia swasembada beras dalam 2 tahun terakhir. Capaian ini merupakan hasil kerja keras dari semua pihak baik petani, penyuluh, peneliti dan para penentu kebijakan pertanian di negeri ini. Tantangan produksi padi kedepan akan semakin besar baik di tingkat regional maupun internasional dan hal tersebut akan sangat berat jika produksi padi hanya bertumpu pada lahan sawah irigasi. Untuk itu pendekatan peningkatan produksi harus dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. 

Upaya ekstensifikasi, sejumlah agroekosistem potensial yang perlu mendapat perhatian untuk pengembangan padi kedepan antara lain lahan kering masam, lahan rawa pasang surut, lahan perkebunan (kelapa, kelapa sawit, karet, dll), lahan tanaman hutan (jati, sengon dll) serta lahan kering dataran tinggi. Untuk mendukung program tersebut, Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi padi spesifik lahan kering. Sejumlah varietas unggul padi gogo dengan potensi hasil tinggi telah dilepas oleh Balitbangtan baik untuk lahan kering dataran rendah maupun dataran tinggi serta lahan kering ternaungi < 50% diantara tanaman tahunan. Balitbangtan juga telah menghasilkan inovasi alsintan yang sesuai untuk lahan kering dari sejak olah tanah, tanam dengan sistem ATABELA, penyiangan, panen hingga pasca panen. Selanjutnya para peneliti Balitbangtan juga telah menghasilkan berbagai formula pupuk hayati dan pestisida hayati yang terbukti efektif untuk mendongkrak hasil padi di lahan kering.


Inovasi-inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Balitbangtan tersebut juga telah diformulasikan sehingga menjadi teknologi yang terintegrasi dan diberi nama LARGO SUPER. LARGO berasal dari kata Larikan Gogo yang merupakan gambaran sistem tanam di lahan kering secara larikan. Model ini mengikuti keberhasilan sistem JARWO SUPER yang sudah terlebih dahulu dikembangkan untuk lahan sawah dan merupakan penyempurnaan dari pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Komponen penting dari Teknologi LARGO SUPER adalah:

  1. Teknologi budidaya terpadu padi lahan kering berbasis tanam jajar legowo 2:1. Varietas Unggul Baru padi gogo terdiri dari Inpago 8, 9, 10, dan 11 Agritan. Varietas lainnya yakni IPB 9G, HIPA 8 dan Situ Patenggang.
  2. Aplikasi Biodekomposer Agrodeko, diberikan pada saat pengolahan tanah
  3. Pupuk hayati Agrice Plus sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK)
  4. Penggunaan Biosilika untuk penguatan tanaman padi
  5. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati Bioprotektor dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali.
  6. Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (ATABELA) sistem larikan.

Provitas eksisting rata-rata hasil padi gogo di Kecamatan Puring adalah 4,0 ton GKP/ha. Hasil ubinan dalam gabah kering panen (GKP) pada kegiatan ini diperoleh hasil sebagai berikut : Inpago 8 provitas 5 ton/ha (tambahan hasil 1 ton/ha atau meningkat 25%); Inpago 9 provitas 6,14 ton/ha (tambahan hasil 2,14 ton/ha atau meningkat 53,5%); Inpago 10 provitas 7,93 ton/ha (tambahan hasil 3,93 ton/ha atau meningkat 98,25%); dan Inpago 11 provitas 7,10 ton/ha (tambahan hasil 3,1 ton/ha atau meningkat 77,5%).


Dengan demikian optimasi sistem produksi padi gogo yang dilakukan di Desa Banjareja, Kecamatan Puring, Kabupeten Kebumen dengan teknologi LARGO SUPER telah berhasil dan sangat layak untuk direplikasi pada lahan kering di seluruh Indonesia. Kegiatan scaling up perlu dikawal oleh Peneliti dan Penyuluh BPTP Balitbangtan di 33 Provinsi. Harapan untuk menjadikan pertanian padi di lahan kering yang tangguh berbasis inovasi teknologi karya anak bangsa dapat terwujud. Semoga langkah ini juga dapat mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar