Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Padi Unggul Terbaru 2017

Di akhir penghujung 2017, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) melaksanakan kegiatan Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Padi Unggul Terbaru yang diselenggarakan pada tanggal 11 Desember 2017 di BB Padi. Tema dari kegiatan tersebut adalah "Dukungan Inovasi Teknologi Padi Untuk Mewujudkan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia".

Salah satu dukungan inovasi teknologi padi terkini adalah penggunaan varietas padi unggul baru dengan melepas varietas padi Inpari 42 GSR dan Inpari 43 GSR dengan keunggulan produktivitas yang tinggi, efisien terhadap penggunaan pupuk dengan penghematan hingga 25% pupuk NPK tanpa menurunkan hasil produksi, lebih tahan terhadap hama penyakit khususnya virus kerdil hampa, serta mutu rasa premium dengan kandungan amilosa 17% dan rendemen lebih tinggi hingga 70%.



Bersamaan dengan acara gelar inovasi teknologi, Balitbangtan juga akan melepas beberapa varietas diantaranya adalah 3 varietas padi sawah berumur genjah (110 HSS) yang tahan hama penyakit, 2 padi gogo yang adaptif di lahan kering dataran tinggi > 750 m dpl dan 1 padi rawa ketan (kandungan amilosa <5%) yang toleran dan 1 padi rawa pasang surut berdaya hasil tinggi toleran keracunan besi dan alumunium. Nama varietas yang dilepas antara lain Inpago-12 Agritan sesuai untuk lahan kering masam. Varietas ini tahan terhadap kekeringan dan keracunan Al, dengan potensi hasil hingga 10,2 ton/ha. Varietas Rindang-1 dan Rindang-2 yang toleran terhadap naungan dikhususkan untuk pengembangan padi di lahan perkebunan muda. Untuk daerah pasang surut, Badan Litbang Pertanian melepas padi varietas Inpara 8 dan Inpara 9 yang tahan terhadap keracunan Fe dan rendaman dengan hasil mencapai 7,4 ton/ha. Di samping itu, Balitbangtan juga telah menghasilkan beberapa varietas unggulan seperti Luhur-1 dan Luhur-2 yang sesuai untuk lahan dataran tinggi di atas 750 meter dpl. Tarabas merupakan varietas unggul padi tipe Japonica yang memiliki mutu beras premium dan tekstur nasi sangat pulen dan lengket (sticky rice), dengan kadar amilosa 17%.



Selain itu, Balitbangtan telah melaunching alat tanam padi (riding rice transplanter) 6 baris jajar legowo dengan kapasitas kerja 0,36 ha/jam (2,8 jam/ha), efisiensi kerja lapang 57%, kedalaman tanam antara 2 sampai 6 cm, jumlah bibit 3 hingga 7 bibit/sekali tanam, jarak tanam dalam baris antara 13 sampai dengan 20 cm, dengan lubang tanam kosong kurang dari 1%. Mesin pertanian lainnya adalah mesin pengolahan tanah farming bulldozer tipe D21PL-8 hasil program kerjasama BBP Mektan yang mampu melakukan pembajakan pada kondisi lahan sawah kering setelah panen, sehingga mempercepat waktu pengolahan tanah, dari semula 14 hari olah tanah dengan menggunakan hand traktor menjadi hanya 3 hari. Selain mempercepat waktu pengolahan tanah, farming bulldozer juga menghemat penggunaan air.

Harapan Kepala Balitbangtan pada acara launching tersebut adalah “dapat terjadi alih informasi dan teknologi kepada petani/penangkar, juga kepada peneliti/pemerhati pertanian padi” sehingga mampu memberikan manfaat kepada semua pihak dan menunjang kesuksesan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. (RTPH/Uje)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar