Balitbangtan mendaratkan Largo Super di Lahan Kering

Dalam rangka mendukung Indonesia menuju swasembada pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus berinovasi dan tidak berhenti pada kesuksesan penerapan sistem tanam Jajar Legowo Super (Jarwo Super) di lahan irigasi yang penerapannya hampir di seluruh propinsi sentra-sentra produksi padi.

Inovasi Balitbangtan berikutnya adalah menguji pengembangan sistem tanam untuk lahan kering yaitu sistem tanam Larikan Gogo (LARGO) SUPER yang tujuannya untuk mendapatkan hasil maksimal dalam upaya mendukung peningkatan produksi padi nasional.

Demarea pengembangan teknologi budidaya padi gogo dengan sistem LARGO SUPER ini dilakukan di lokasi dataran rendah seluas 100 hektare, tepatnya di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Wilayah pengembangan tersebut merupakan wilayah potensial karena memiliki lahan kering terbuka dan lahan tegakan kelapa dengan intensitas naungan kurang dari 50 persen.

Berdasarkan karakteristik lahan pada umumnya petani di wilayah tersebut sudah terbiasa menanam padi gogo dengan menggunakan perhitungan pranatamangsa untuk menentukan waktu tanam. Pranatamangsa adalah cara yang dianggap benar dan isyarat alam manjadi pedoman dalam bercocok tanam, sehingga sulit berubah dari kebiasaan lama apalagi beralih menggunakan anjuran teknologi. Hadirnya teknologi larikan gogo yang diperkenalkan di Puring memang tidak mudah diterima begitu saja. Namun berkat pendekatan dan dukungan dari berbagai pihak, petani mulai bisa menerima.

Respons dan keseriusan setiap kelompok tani untuk belajar agar lebih maju dalam bercocok tanam sangat tinggi sehingga inovasi teknologi budidaya padi dengan LARGO SUPER yang ditawarkan Balitbangtan dapat diterima dengan baik. Sebagai kegiatan awal petani diperkenalkan alat tanam largo dan beberapa varietas unggul baru, yakni Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, dan Inpago 11 sekaligus pengawalan budidaya padi.

Sistem Tanam Largo SUPER ini tidak lepas dari penerapan teknologi yang diawali dengan penggunaan benih unggul, Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK), pupuk hayati Agrice Plus, pestisida nabati Bio Protector, dan biodekomposer Agrodeko 1, penggunaan lampu perangkap hama, dan pemasangan feromon hingga mekanisasi pertanian. Dalam budidaya largo, pengaturan jarak tanam dengan membentuk barisan tanaman yang lurus untuk mempermudah pemeliharaan (penyiangan, penyemprotan dan pemupukan). 

Diharapkan model pengembangan teknologi budidaya padi gogo dengan LARGO SUPER dapat meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan produksi dan produktivitas padi di lahan sub optimal. (RTPH/Uje)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar