Koro Pedang, Bahan Pangan Alternatif Pengganti Kedelai

Harga kedelai semakin mahal dan impor terus melonjak tinggi, banyak orang menyarankan agar segera dicari bahan pangan alternatif pengganti kedelai. Karakter bahan pangan itu tentu harus mirip dengan kedelai, salah satunya, tetap enak dan lezat ketika menjadi bahan bahan baku tempe dan tahu. Selain itu, bahan pangan tersebut juga harus bisa diproduksi secara masal dalam jumlah besar, dan secara ekonomis menguntungkan bagi yang memproduksi.

Berbagai jenis koro dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam fermentasi berbagai makanan tradisional seperti kecap, tempe, tahu, dan tauco. Banyak makanan terfermentasi dibuat dengan bahan dasar kedelai, yang sebenarnya dapat dicampur dengan aneka kacang potensial.

Kacang koro pedang (Canavalia gladiata), koro benguk (Mucuna prurien), dan kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), merupakan beberapa bahan baku yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan pemenuh atau substitusi kedelai. Penelitian membuktikan bahwa tahu dapat dibuat dari biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), serta substitusi kedelai dengan aneka biji koro. Pilihan bahan-bahan dasar tersebut disebabkan karena kacang koro pedang, koro benguk, dan kecipir memiliki kandungan kimia yang hampir sama dengan kedelai, sehingga diharapkan dapat diperoleh tahu dengan kualitas yang tidak kalah dengan tahu dari kedelali murni.

Dari sekian banyak alternatif, tanaman koro pedang (Canavalia ensiformis) merupakan salah satu pilihan terbaik. Melalui pendayagunaan koro pedang, maka ketergantungan impor kedelai dapat dikurangi yaitu melakukan substitusi kedelai dengan koro pedang.

Tanaman koro pedang telah lama dikenal di Indonesia, namun kompetisi antar jenis tanaman menyebabkan tanaman ini tersisih dan jarang ditanam dalam skala luas. Secara tradisional tanaman koro pedang digunakan untuk pupuk hijau, polong muda digunakan untuk sayur (dimasak seperti irisan kacang buncis). Biji koro pedang tidak dapat dimakan secara langsung karena akan menimbulkan rasa pusing disebabkan oleh adanya senyawa toksik. Biji koro merah digunakan untuk obat sakit dada dan di Madura, koro biji merah digunakan untuk obat dengan nama Bedus.

Secara botani tanaman koro pedang dibedakan ke dalam dua tipe tanaman yaitu: koro pedang yang tumbuh merambat (climbing) dengan biji merah (Canavalia gladiata (jack) DC.) (Gambar 1) dan koro pedang tumbuh tegak dengan biji putih (Canavalia ensiformis (L.) DC.) (Gambar 2). Tipe merambat (Canavalia gladiata) dikenal dengan Swordbean tersebar di Asia Tenggara, India, Myanmar, Ceylon dan negara-negara Asia Timur. Koro pedang tipe tegak/perdu, polongnya dapat menyentuh permukaan tanah sehingga disebut Koro Dongkrak (Jackbean).

Koro pedang (Canavalia gladiata), berasal dari Asia atau Afrika. Koro pedang ditanam secara luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di India, Srilanka, Myanmar, dan Indo-China. Kini, koro pedang telah tersebar di seluruh daerah tropis dan telah beradaptasi di beberapa daerah termasuk Indonesia.

Daun koro pedang berjari tiga dan cukup lebar dengan bentuk bundar seperti telur, lancip, dan memiliki bulu halus pada kedua sisinya. Bunga berbentuk tandan dengan mahkota bunga berwarna putih. Buah berupa polong dengan bentuk lonjong panjang, ujungnya cenderung lebar. Biji koro pedang berbentuk lonjong dengan warna beragam, yakni: merah, merah muda, merah kecoklatan, hitam pekat, dan putih.

Kandungan protein biji koro pedang mencapai 30,36% yang tidak berbeda banyak dengan protein kedelai sebanyak 35%. Kandungan protein biji aneka kacang berturut-turut adalah: koro pedang biji putih (27,4%), koro pedang biji merah (32%), kedelai (35%) dan kacang tanah (23,1%). Ekstrak biji koro pedang dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan mencegah penyakit kanker. Namun, biji koro pedang mengandung zat toksik, yaitu: kholin, asam hidrozianine, trogonelin, dan glukosianida dan asam fitat yang merupakan senyawa anti gizi, namun dapat dinetralkan/didetoksifikasi dengan perendaman, perebusan, pengupasan kulit biji dan difermentasikan.

Biji koro pedang memiliki kandungan canavanine yang sangat tinggi (88–91%). Canavanine merupakan suatu senyawa asam amino yang mirip Arginin. Arginin adalah salah satu dari 20 asam amino yang digunakan oleh organisme untuk menyusun protein. Apabila canavanine dikonsumsi, senyawa ini akan bergabung ke dalam protein yang biasa ditempati oleh Arginin. Biji koro pedang juga mengandung vitamin B1 dan B2.

Koro pedang memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan karena mudah dibudidayakan dan ditumpangsarikan dengan ubi kayu, jagung, sengon, kopi, kakao, dan lain-lain. Peluang pasar yang menjanjikan antara lain permintaan dari Korea, Jepang, dan Amerika Serikat. Tanaman ini juga toleran kekeringan dan adaptif pada lahan kering masam.

Tanaman koro pedang dapat tumbuh pada segala jenis tanah, termasuk tanah marjinal. Beberapa daerah sudah menggunakan koro pedang sebagai bahan baku tempe, susu, tepung pengganti terigu, dan bungkil sebagai pengganti bungkil kedelai untuk pakan, minyak goreng, dan abon.

Produktivitas rata-rata koro pedang sebanyak 7 ton/ha dengan potensi hasil mencapai 12 t/ha, dan pupuk hijau yang dihasilkan sebanyak 40‒50 ton/ha. Luas lahan penanaman kacang koro pedang baru mencapai 1.590 hektar dengan produksi rata-rata 5 ton per tahun. Di tengah semakin melambungnya harga kedelai disertai dengan produksi yang semakin berkurang, kacang koro pedang diyakini mampu menjadi bahan komoditas alternatif sebagai pemenuh atau pengganti kedelai untuk bahan baku tempe dan tahu.

Kegiatan usaha produk hasil olahan pangan lokal koro pedang berkontribusi pada diversifikasi pangan. Para petani kacang koro pedang yang terhimpun dalam Komunitas Damar Sindoro-Sumbing, di Temanggung, Jawa Tengah mampu menghasilkan 4–8 ton koro pedang setiap panen dan menilai, prospek budidaya koro pedang cukup bagus. Permintaan koro pedang di Jawa Tengah mencapai 100-200 ton per bulan.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar