Gelar Teknologi Produksi Jagung Hibrida NASA 29 Super Untuk Mendukung Swasembada Jagung 2017

Pada tahun 2017 Pemerintah menargetkan swasembada jagung nasional dan benar-benar menutup kran impor jagung. Salah satu bentuk dukungan pemerintah agar bisa swasembada jagung yaitu program bantuan benih untuk peningkatan produksi tanaman jagung, serta perluasan areal tanam baru (PATB). Menurut data BPS saat ini capaian provitas jagung masih berkisar antara 5,1 – 5,3 ton/ha. Untuk meningkatkan provitas tersebut, maka Balai Penelitian Tanaman Serealia berinovasi untuk menggunakan paket teknologi jagung Nasa 29 Super. Dengan adanya inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan provitas jagung sampai > 10 ton/ha. Paket teknologi Nasa 29 Super adalah teknologi yang berbasis pupuk hayati (Agrofit) dan biodekomposer serta varietas yang digunakan harus menggunakan varietas tongkol ganda/Nasa 29. Teknologi Nasa Super menekankan pada penggunaan pupuk hayati dan biodekomposer untuk optimalisasi produksi jagung tongkol ganda pada agroekosistem lahan tadah hujan.

Dalam rangka mempercepat diseminasi teknologi Nasa 29 Super, Badan Litbang Pertanian melalui UPT Balai Penelitian Tanaman Serealia melaksanakan gelar teknologi untuk pengenalan produk/paket teknologi sebelum dilepas ke masyarakat.     Selain itu pada acara gelar teknologi ditampilkan juga demplot untuk perbandingan teknologi budidaya eksisting yang diterapkan petani versus teknologi Nasa 29 Super. Respon Pemda, swasta, penyuluh, TNI dan petani pada lokasi pengembangan sangat baik karena pada umumnya sudah sesuai dengan preferensi petani yaitu vigoritas tinggi dengan pertumbuhan cepat; batang besar dengan perakaran yang kokoh sehingga tahan rebah; tahan penyakit bulai, karat dan hawar daun; toleran kekeringan; ukuran biji yang besar dengan daya tancap yang dalam serta jenggel yang kecil dan keras sehingga rendemennya tinggi dan mudah dipipil; ukuran tongkol besar dan panjang serta stay green sehingga sangat disukai oleh petani jagung karena batang dan daun bagian atas tongkol dapat dimanfaatkan sebagai pakan hijauan ternak. Hasil rata-rata berdasarkan ubinan BPS mencapai 10,5-11,7 ton/ha, lebih tinggi dibandingkan teknologi eksisting yang hasilnya < 6 ton/ha. Petani di sekitar lokasi mengharapkan agar pada musim berikutnya mereka dapat menerapkan teknologi budidaya Nasa 29 Super yang disertai dengan penyediaan logistik benih.

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar