Mekanisasi Modern Hortikultura

Penerapan mekanisasi pertanian dalam usahatani hortikultura merupakan salah satu bentuk transformasi pertanian modern. Ciri pertanian modern yaitu memiliki produktivitas tinggi, efisien dalam penggunaan sumberdaya dan teknologi, serta mampu menghasilkan output yang berkualitas dan bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.

Pada saat ini pemerintah mencanangkan program perbenihan untuk hortikultura, dengan prioritas utama benih bawang merah, cabai, dan bawang putih. Prioritas pengembangan bawang merah 7.000 ha, cabai 15.000 ha, dan bawang putih 200 ha. Kebutuhan bawang merah khususnya pada saat-saat tertentu mengalami kenaikan dan seringnya tidak sejalan dengan musim panen. Kebutuhan bawang merah nasional tercatat sebesar 90 ribu ton per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan benih dalam pengembangan bawang merah, Balitbangtan telah menghasilkan inovasi benih botani atau True Shallot Seed (TSS). Keunggulan inovasi TSS antara lain produktivitas tanaman meningkat karena tidak atau lebih sedikit membawa penyakit tular benih seperti virus dari pada umbi bibit, tidak ada dormansi dan daya simpan lebih lama (2 tahun), kebutuhan benih lebih sedikit (5–7 kg/ha) sehingga biaya benih murah, serta penyimpanan dan distribusi lebih mudah.

Dalam kesempatan 43 tahun Balitbangtan ini telah dihasilkan inovasi alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk perbenihan hortikultura secara terintegrasi, mulai dari penyiapan lahan, pengguludan, pemasang mulsa, persemaian benih (Smart Green House), pemeliharaan benih, penanam, pemanen, pengawetan dan penyimpanan. Unit alsintan automatisasi perbenihan persemaian TSS hasil inovasi Balitbangtan mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray per jam, atau 75.600 benih umbi mini per jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini per hari bila bekerja selama 8 jam per hari. Sehingga unit alsintan untuk prosesing TSS tersebut mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5 – 6 ha per hari. Analisis usahatani dengan dukungan mekanisasi modern (alsintan yang dilaunching) dapat menekan biaya untuk bawang merah sebesar Rp 33.898.000/ha (efisiensi 45,0%) dan cabai sebesar Rp 28.628.000/ha (efisiensi 38,0%) dibandingkan secara manual. Unit alsintan lainnya, seperti mesin penggulud, pemasang mulsa, penanam dan pemanen sudah selaras (in-line) dengan persyaratan optimal dari usahatani bawang merah dengan TSS.

Khusus untuk rumah tanam (green house) untuk pemeliharaan dan persemaian benih, sudah sangat terkendali secara otomatis semua parameter lingkungan mikronya (temperature, kelembaban, kadar CO2/O2 dan ventilasi). Rumah tanam pintar ini (Smart Green House) dapat dikendalikan melalui smartphone. Semua prototipe alsintan untuk hortikultura hasil Balitbangtan tersebut diharapkan diperbanyak oleh industri alsintan dalam negeri melalui kerjasama lisensi.

Dunia pertanian menghadapi kondisi aging farmer, terlihat dari kondisi rendahnya motivasi pemuda menjadi petani. Namun, pengalaman selama ini menujukkan bahwa pemuda tani tetap tertarik untuk terlibat secara selektif, misalnya pada usahatani komoditas-komoditas tertentu terutama hortikultura dan peternakan, serta agribisnis di sektor hilir.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 131,55 juta. Jumlah tersebut naik 6,11 juta dibanding Agustus 2016 dan naik 3,03 persen atau 3,88 juta dibanding Februari 2016. 
Penduduk pekerja di Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 124,54 juta, naik 6,13 juta dibanding pada semester lalu, dan bertambah 3,89 juta dibanding Februari 2017. Oleh karenanya upaya melibatkan pemuda pada sektor pertanian terus diupayakan dengan berbagai cara. Kali ini dilaksanakan melalui Bimbingan Teknis pada Pemuda Agro Inovator. Hal ini menunjukkan bahwa Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian memberikan perhatian khusus dalam membina generasi muda untuk berminat dan terjun ke bidang pertanian dengan mengadopsi inovasi litbang bisa menjadikannya sebagai wirausahawan muda yang sukses.

Dalam kesempatan HUT Balitbangtan kali ini juga diberikan Agroinovator Award kepada para Peneliti, Perekayasa, Penyuluh, petani muda yang dinilai telah berkontribusi dibidangnya.

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar