Budidaya Kedelai di lahan Sawah Tadah Hujan dengan Teknologi Biodetas

Pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi kedelai nasional  dengan sasaran mencapai swasembada pada tahun 2020. Untuk mencapai swasembada luas panen kedelai yang kini baru mencapai 697 ribu ha dengan produktivitas 1,57 t/ha, harus diperluas hingga mencapai 2,0 juta ha dengan produktivitas 1,70 t/ha. Di Indonesia, untuk perluasan areal panen kedelai tersedia lahan sawah tadah hujan 3,7 juta ha, 263 ribu ha diantaranya berada di provinsi Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan, Maros merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai potensi  besar untuk pengembangan kedelai pada sawah tadah hujan. Luas sawah di kabupaten ini yang setahun dapat ditanami padi sekali karena masalah air mencapai 6.400 ha. Lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan palawija, diantaranya adalah kedelai. Sebagian dari lahan tersebut, telah ditanami kedelai tetapi produktivitasnya masih rendah, yakni di petani berkisar antara 0,8 - 1,7 t/ha. Produktivitas tersebut, dengan mudah dapat ditingkatkan hingga mencapai 2,5-3,0 t/ha dengan paket teknologi, yang meliputi: penggunaan varietas unggul, pupuk hayati Agrisoy, dan penggunaan biopestisida.  Varietas unggul baru kedelai yang dilepas Kementerian Pertanian beberapa diantaranya dapat mencapai hasil lebih dari 3,5 t/ha. Hal itu menunjukkan bahwa ada peluang untuk mengembangkan kedelai di lahan sawah tadah hujan dengan produktivitas 3,0 t/ha atau lebih.

 

 

 



Dalam rangka diseminasi teknologi budidaya kedelai di sawah tadah hujan mendukung upaya peningkatan produksi untuk pencapaian swasembada, Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi bekerjasama dengan BPTP Sulawesi Selatan pada musim tanam 2017 melakukan Gelar Teknologi BIODETAS di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Teknologi Biodetas ditekankan pada penggunaan pupuk hayati Agrisoy berbahan baku Rhizobium, biopestisida VirGra dan Be-Bas. Di beberapa jenis lahan (tanah masam, tanah non masam, dan lahan pasang surut), penggunaan Agrisoy 250 gram/50 kg benih + pupuk organik 1,0 t/ha dapat menghemat penggunaan pupuk NP 50%, dan memberikan hasil kedelai lebih tinggi dibandingkan dengan dipupuk NP dosis rekomendasi. Biopestisida VirGra dan Be-Bas efektif dapat mengendalikan hama pemakan daun utamanya ulat grayak, dan pengisap maupun penggerek polong.

Gelar teknologi budidaya kedelai di sawah tadah hujan Tompobulu-Maros ini, bertujuan untuk : (1) Mengembangkan teknologi BIODETAS, yaitu teknologi budidaya kedelai di sawah tadah hujan yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia dan pestisida dengan hasil sekitar 3,0 t/ha;  (2) Memperkenalkan beberapa varietas unggul baru  kedelai pada petani, agar varietas tersebut  segera dapat berkembang di masyarakat. Hasil kedelai dari kegiatan ini, akan digunakan sebagai sumber benih untuk pengembangan kedelai di Sulawesi Selatan lebih lanjut. Berkenaan dengan tujuan tersebut, di Tompobulu digelar tiga paket teknologi kedelai, yaitu paket teknologi Exsisting, Biodetas, dan Biodetas plus; serta kegiatan superimposed untuk memperkenalkan varietas unggul baru. Dosis pupuk yang digunakan pada teknologi  Existing = 250 kg Phonska+75 kg SP36/ha, Biodetas = 200 kg Phonska + 50 kg SP36/ha + 250 gram Agrisoy/50 kg benih dan 1,0 t pupuk organik/ha, Biodetas Plus = Biodetas + Insektisida hayati Virgra dan Be-Bas. Disamping itu juga dicoba teknologi dengan pupuk dosis tinggi, untuk mengetahui respon masing-masing varietas terhadap input teknologi, yaitu = 400 kg Phonska + 100 kg SP36/ha + 250 gram Agrisoy/50 kg benih+ 1,0 t pupuk organik/ha. Perkiraan hasil dan keuntungan masing-masing teknologi berdasarkan jumlah polong isi, populasi tanaman, dan bobot 100 biji, tersaji pada tabel 1 dan 2. RTPH

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar