Pengendalian Hama Daun dan Penggerek Polong Kedelai dengan Virgra

Ulat grayak merupakan salah satu hama penting dan menjadi kendala dalam usaha peningkatan produksi kedelai di Indonesia. Kehilangan hasil akibat serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura F.) dapat mencapai 85%, bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen (puso). Kerusakan daun yang diakibatkan oleh serangan hama tersebut dapat mengganggu proses fotosintesis dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kehilangan hasil panen.

Petani di sentra produksi kedelai untuk mempertahankan produksi kedelai dari serangan hama, 90% masih mengandalkan insektisida kimia. Penggunaan insektisida kimia selain berdampak positif, juga berdampak negatif, karena insektisida kimia memiliki spektrum daya bunuh yang luas dan akan mengakibatkan musnahnya musuh alami seperti parasitoid, predator, serangga berguna lainnya, dan serangga non target.

Disamping itu penggunaan insektisida yang tidak bijaksana dapat menimbulkan resistensi dan resurgensi S. litura terhadap insektisida. Disamping itu, penggunaan insektisida kimia juga memerlukan biaya mahal. Oleh karena itu diupayakan alternatif lain pengendalian hama S. litura, yaitu dengan pemanfaatan musuh alami yang salah satunya adalah Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (SlNPV). Secara umum, NPV mudah diperbanyak secara in vivo (dengan menginfeksi larva inang) dalam skala laboratorium dan diformulasikan.

Serangkaian penelitian telah dilakukan menggunakan virus patogen ulat grayak, yaitu Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (SlNPV). Koleksi SlNPV yang dimiliki Balitkabi sampai tahun 2012 mencapai 45 isolat SlNPV dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat SlNPV JTM 97C mempunyai tingkat virulensi 100% pada ulat grayak dalam kurun waktu 12 hari setelah aplikasi dan kompatibel dengan pengendalian insektisida kimia.

Penggunaan Virgra dengan dosis 2 gr/l (P2) dan 4 gr/l (P1) yang diaplikasikan secara tunggal (tanpa kombinasi dengan insektisida kimia Sihalotrin) mampu menurunkan populasi sampai 100% enam hari setelah aplikasi dan setara dengan aplikasi insektisida kimia Sihalotrin 2 cc/l.

Hasil panen pada perlakuan P1 (4 g/l Virgra), P6 (1,5 g/l Virgra+1 cc/l Sihalotrin) dan P9 (2 cc/l Sihalotrin) menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata yaitu masing-masing 2 t/ha.

JTM 97C selain mematikan S. litura juga dapat mematikan larva dari ordo Lepidoptera yang lain yaitu ulat jengkal Chrysodeixis chalcites, penggulung daun Lamprosema indicata dan Adoxophyes sp., penggerek polong Etiella zinckenella, pemakan polong Helicoverpa armigera, dan penggerek polong kacang hijau Maruca testulalis. Anjuran aplikasi di lapang pada fase generatif-vegetatif dapat menggunakan volume semprot 600-700 l/ha dengan takaran 2-3 g/l dan disesuaikan dengan fase pertumbuhan kedelai.

Gambar 5. Biji kedelai yang tidak disemprot (atas) dan yang disemprot VirGra (bawah)

Biji kedelai yang tidak disemprot (atas) dan yang disemprot VirGra (bawah)

virgra5

Ulat penggulung daun mati akibat disemprot VirGra

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar