Preferensi Wereng Hijau, Alternatif Pengujian Ketahanan Padi Terhadap Penyakit Tungro

Penyakit tungro merupakan salah satu penyakit yang mengancam kestabilan produksi padi nasional dengan menyebabkan kehilangan hasil hingga puso. Ancaman penyakit tungro selalu ada setiap tahunnya. Ledakan serangan tungro terjadi secara sporadis, oleh karena itu sangat diperlukan usaha pengendalian khususnya disentra produksi padi dan daerah endemis tungro.

Wereng hijau (N.viriescens) merupakan jenis serangga yang berpotensi sebagai hama paling dominan menyerang tanaman padi di Indonesia maupun negara-negara lainnya yang ada di kawasan Asia Tenggara. Wereng hijau menggunakan tanaman padi sebagai tempat bertelur, berlindung dan sebagai pakan. Wereng tersebut menghisap cairan yang terdapat pada jaringan tanaman padi sekaligus dapat memindahkan (sebagai vektor) virus ke tanaman padi. Wereng hijau (N.virrescens) bersifat monofag pada padi, dan kepadatan populasinya berpengaruh secara nyata pada keberadaan tungro.

Tinggi rendahnya intensitas penyakit tungro berkorelasi positif dengan fluktuasi populasi wereng hijau apabila tersedia sumber inokulumnya. Wereng hijau (N.viriescens) merupakan salah satu serangga penular (vektor) virus tungro utama di Indonesia. Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi Nephotettix virescens antara 35 - 83%.

Dibandingkan dengan spesies wereng hijau lainnya seperti N. nigropictus, N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 0 - 27%, 40% dan 7% lebih rendah dari N. virescens (Widiarta. 2005). Wereng hijau menularkan RTSV secara bebas, tetapi menularkan RTBV tergantung pada keberadaan RTSV (Ahmad & Tissera, 2001). Wereng hijau secara cepat mendapatkan RTSV dari tanaman terinfeksi RTSV sendiri, tetapi tidak diperoleh RTBV dari tanaman terinfeksi oleh RTBV sendiri. Dalam wereng hijau, RTBV dapat bertahan selama 4-5 hari dan RTSV 2-4 hari. Segera setelah makan dari tanaman terinfeksi RTBV dan RTSV, wereng hijau menularkan kedua virus bersama atau RTBV atau RTSV sendiri-sendiri pada tanaman baru (Hibino, 1996).

Jika tanaman baru tersebut tidak disenangi oleh wereng hijau (varietas tahan) maka kemungkinan besar tidak terjadi penularan virus baik RTBV maupun RTSV. Dengan demikian, penggunaan varietas tahan yang tidak disenangi oleh wereng hijau merupakan salah satu cara efektif untuk mengendalikan penyakit tungro. Penggunaan varietas tahan biayanya relatif murah, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan mudah diaplikasikan oleh petani di lapangan.

Namun demikian, tidak dianjurkan untuk menanam varietas padi yang sama secara terus menerus pada areal sawah yang sama demi mencegah munculnya biotipe baru sehingga varietas padi yang baru dihasilkan dapat bertahan lebih lama.Oleh karena itu, diperlukan pengujian varietas tahan tungro baik tahan terhadap sumber inokulumnya (virus tungro) maupun tahan terhadap wereng hijau sebagai vektornya.

Preferensi wereng hijau dapat dilakukan di rumah kaca secara sederhana dengan menanam sebanyak 10 bibit setiap varietas dalam baki lalu dimasukkan ke dalam kurungan kasa. Masing-masing ke dalam kurungan diinfestasikana 50 imago wereng hijau tepat pada bagian tengah baki. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah wereng hijau yang hinggap pada setiap varietas dilanjutkan dengan menghitung jumlah yang berhasil jadi nimfa.

Sumber: Loka Penelitian Penyakit Tungro

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar