Etiella Spp, Hama Penggerek Polong Kedelai dan Cara Pengendaliannya

Di Indonesia, hama penggerek polong kedelai Etiella spp. (Etiella zinckenella dan Etiella hopsoni) dapat menimbulkan kerusakan polong yang sangat parah.  Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 80%. Lebih dari itu, jika tidak ada tindakan pengendalian bisa mengakibatkan puso. 

Sebaran hama ini terdapat hampir di seluruh provinsi dan merupakan salah satu hama utama di daerah sentra produksi kedelai. Hasil survei yang telah dilakukan oleh Balitkabi menyebutkan bahwa hama ini ditemukan di 20 provinsi di Indonesia.  Etiella hopsoni banyak terdapat di wilayah Sumatera, serta beberapa tempat di Jawa dan Sulawesi. Sedangkan E. zinckenella tersebar luas di seluruh Indonesia. Berkaitan dengan itu, diduga kepadatan populasi Etiella spp. cenderung meningkat bila pertanaman inangnya semakin luas. Pada dasarnya, pertumbuhan dan perkembangan serangga hama di alam salah satunya dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan. Semakin banyak pakan yang disukai, maka pertumbuhan dan perkembangan serangga hama akan semakin cepat. Selain itu, musim ikut mempengaruhi perkembangan populasi larva Etiella spp. 

Hasil penelitian pada musim hujan di Jawa Barat menunjukkan bahwa populasi larva Etiella spp. rendah, namun populasi meningkat dari akhir Mei dan awal Juni kemudian mencapai puncaknya di awal Juni atau awal Juli memasuki musim kemarau. Sementara itu, di wilayah Jawa Timur, populasi cenderung meningkat pada musim kemarau dan serangan yang paling berat pada tanaman kedelai musim tanam ketiga antara Juli-Agustus. Pada musim kemarau suhu yang panas menyebabkan aktifitas metabolisme hama semakin cepat. Hal ini berakibat memperpendek siklus hidupnya dan  populasi hama meningkat dengan cepat.  

Lalu, bagaimana kebiasaan hama yang satu ini? Menurut hasil penelitian Prof. Dr. Marwoto, hama Larva Etiella spp. lebih suka memakan biji muda. Biji tersebut digerek habis sama sekali atau hanya tersisa sedikit. Hal lainnya yang bisa dicermati adalah dalam satu polong jarang ditemukan lebih dari satu ekor larva. Larva lebih senang hidup sendiri dalam polong, jika terjadi dalam satu polong ada lebih dari satu maka akan terjadi kompetisi yang akhirnya larva yang lemah akan keluar dan pindah ke polong lain. Serangan pada polong muda ini dapat mengakibatkan kerontokan polong. Sebaliknya, serangan pada polong tua dapat menurunkan kuantitas dan kualitas biji kedelai. 

Secara fisik kedua hama kedelai ini memiliki perbedaan. Ngengat E. zinckenella berwarna keabu-abuan dan mempunyai garis putih pada sayap depan sedangkan E. hobsoni tidak mempunyai garis putih pada sayapnya. Saat bertelur, telur diletakkan berkelompok di bagian bawah daun, kelopak bunga atau pada polong. Tiap kelompok banyaknya 4-15 butir. Telur tersebut berbentuk lonjong dengan diameter 0,6 mm. Pada saat diletakkan telur berwarna putih mengilap, lalu berubah menjadi kemerahan. Ketika akan menetas warna menjadi jingga. Setelah 3-4 hari, telur menetas dan keluar ulat. Ulat yang baru keluar dari telur berwarna putih kekuningan dan kemudian berubah menjadi hijau dengan garis merah memanjang. Ulat instar 1 dan 2 menggerek kulit polong, kemudian masuk menggerek biji dan hidup di dalam biji. Setelah instar 2, ulat hidup di luar biji. Dalam satu polong sering dijumpai lebih dari 1 ekor ulat. Ulat instar akhir mempunyai panjang 13-15 mm dengan lebar 2-3 mm. Proses berikutnya, kepompong dibentuk dalam tanah dengan terlebih dulu membuat sel dari tanah. Ke­pompong berwarna coklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm. Setelah 9-15 hari, kepompong berubah menjadi ngengat. Tanda serangan berupa lubang gerek berbentuk bundar pada kulit polong. Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong tersebut berarti ulat sudah meninggalkan polong. 

Tidak hanya kedelai, hama penggerek polong Etiella spp. ini dapat juga hidup pada polong kacang hijau (Vigna radiata), kacang tunggak (Vigna unguiculata), kacang gude (Cajanus cajan) dan kacang panjang (Vigna sinensis). Ngengat Etiella spp. yang muncul dari polong kedelai lebih memilih meletakkan telur pada kedelai daripada Crotalaria, kacang hijau (Vigna radiata), dan kacang panjang (Vigna sinensis), demikian juga ngengat yang keluar dari Crotalaria dan kacang hijau lebih memilih polong kedelai dari pada polong Crotalaria atau kacang hijau.  

Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan berlandaskan pada strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Strategi PHT mendukung secara kompatibel semua teknik atau metode pengendalian hama dan penyakit berdasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. Prinsip operasional yang digunakan dalam PHT antara lain:  (1) Budidaya tanaman sehat. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Untuk itu, penggunaan paket-paket teknologi produksi dalam praktik-praktik agronomis yang dilaksanakan harus diarahkan kepada terwujudnya tanaman yang sehat. (2) Pelestarian musuh alami. Musuh alami (parasit, predator dan patogen serangga) merupakan faktor pengendali hama penting yang perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi hama di lapang. (3). Pemantauan ekosistem secara terpadu. Pemantauan ekosistem pertanaman yang intensif secara rutin oleh petani merupakan dasar analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan. (4). Petani sebagai ahli PHT. Petani sebagai pengambil keputusan dan keterampilan dalam menganalisis ekosistem serta mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan dasar PHT.  Adapun komponen pengendalian hama penggerek polong adalah (a) tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10; (b) pergiliran tanaman; (c) pelepasan parasitoid Trichogramma spp.; (d) semprot dengan insektisida bila populasi mencapai ambang kendali (klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin,  carbosulfan, sihalotrin, sipermetrin).

Kerusakan polong kedelai akibat serangan hama penggerek polong Etiella spp.

Sumber: Prof. Marwoto (Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar