Inpari 9: Saat Kesan Pertama Belum Menggoda

Pesimistis memang, bahwa salah satu varietas unggul Badan Litbang Pertanian diperkenalkan pada waktu itu, saat panen di salah satu lahan milik teman, saya lihat hasilnya tidak menarik karena nampak ukuran gabahnya ramping, dan saat ditimbang dalam satu karungnya juga tidak terlalu berat, ungkap karman menceritakan pengalamannya 3 tahun yang lalu tentang varietas baru yang dikenalnya. Persepsi yang telah terbangun bahwa varietas yang baik adalah bentuk gabah bulat dan besar akan menghasilkan panen yang tinggi. Wajar, secara spontan merespon suatu hal yang baru dengan berfikir analogi atau membandingkan satu hal baru dengan suatu hal yang pernah diketahui sebelumnya. Berharap, bahwa yang baru adalah lebih baik dari yang terdahulu. “saya tidak ingat, pada musim apa saat panen waktu itu, maka dari itu saya mau mencoba sendiri di lahan saya,” tandasnya kembali bahwa rasa penasaran terhadap hal baru mendorong pria lulusan sarjana peternakan ini terjun ke dunia pertanian. Seringkali terkecoh, kekurangan meski sekecil apapun pada hal baru apabila dibandingkan dengan yang terdahulu menjadikan kekurangan tersebut adalah mutlak. Sehingga keunggulan tertentu yang dimiliki pada hal baru tersebut menjadi tidak diperhitungkan. Hal ini mengakibatkan kecenderungan persepsi secara keseluruhan, bahwa sesuatu hal yang telah ada lebih dahulu masih lebih unggul dibandingkan dengan yang baru. Pengalaman yang menarik ini tercermin pada sebagian masyarakat kelompok tani di Desa Tonronge, Kec. Baranti, Kab Sidrap, Sulsel saat berkunjung dalam rangka kegiatan studi banding di Loka Penelitian Penyakit Tungro (Lolittungro), Lanrang (19/3).
 
Sekarang, Inpari 9 telah dikenal dengan julukan “padi kristal”. Meskipun gabah ramping, panen tidak lagi mengecewakan. “sudah biasa, kalo kristal itu dalam satu karungnya dapat mencapai 110kg bahkan 120kg apabila dibandingkan panen  terdahulu,” tambah Karman menunjukkan bahwa angka capaian tersebut melebihi kapasitas karung yang biasanya 100kg gabah kering sawah. Pengalaman Karman dan kelompok tani Tonronge ini telah membuktikan bahwa Inpari 9 berpotensi hasil tinggi.
 
Kebanggaan ini tidak lepas dari daya dukung sumber daya lahan dan air. Terutama bagi kelompok tani Tonronge, sawah dengan irigasi teknis berjalan sangat lancar. “meski inpari 9 umurnya dalam, tapi hasilnya tinggi. Itu yang kami harapkan,” demikian Sarming menambahkan, bahwa bukan lagi kendala inpari 9 memiliki karakter bukan termasuk varietas umur genjah. Secara deskriptif, Inpari 9 memiliki karakter: umur sekitar 125 hari mulai dari sebar; tinggi tanaman sekitar 120 cm; posisi daun adalah tegak; bentuk gabah panjang dan ramping; potensi hasil tinggi 9,3 ton/ha; ketahanan terhadap hama dan penyakit, Inpari 9 secara khusus dirakit untuk tahan terhadap penyakit tungro, dan juga memiliki ketahanan tehadap penyakit hawar daun bakteri atau penyakit kresek dengan kategori agak tahan.
 
Ketahanan Inpari 9 terhadap penyakit tungro adalah keunggulan yang dapat diandalkan. Selain itu, Inpari 7 dan Inpari 8 yang juga memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro dapat menjadi alternatif pilihan, dan tentunya mempertimbangkan aspek spesifik lokasi. Pengawalan dan sistem kerjasama pendampingan perlu menjadi perhatian. Adopsi teknologi dengan pemanfaatan varietas tahan masih perlu dimonitoring perkembangan dan distribusinya. Hal ini disarankan oleh R. Heru Praptana, bahwa peta pewilayahan dan distribusi varietas tahan tungro diperlukan untuk pemantauan adopsi dan perkembangan varietas serta memudahkan pengelolaan durabilitas ketahanan varietas di setiap daerah endemis tungro.
 
“Perakitan dan perbaikan varietas tahan, percepatan adopsi, dan pengelolaan durabilitas ketahanan merupakan tiga hal yang harus berjalan secara sinergis,” lanjut Heru, demikian disapa sebagai peneliti senior di Lolittungro. Dengan adanya peta pewilayahan dan distribusi varietas tahan berdasarkan kesesuaiannya terhadap preferensi pengguna, maka pengguna diharapkan dapat mempertahankan keberlanjutan penggunaan varietas tersebut.
 
Secara teknis di lapangan, penggunaan varietas tahan perlu dilakukan pergiliran dan pengaturan pola tanam. Pewilayahan beberapa varietas tahan berdasarkan kesesuaiannya terhadap virulensi virus atau keganasan virus dan kelompok serangga wereng hijau sebagai penular virus sangat mendukung pengelolaan durabilitas ketahanannya. demikian suatu varietas unggul dikelola dalam rangka mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan petani melalui upaya peningkatan potensi hasil dari suatu varietas unggul yang digunakan.
 
Sumber: Wasis Senoaji, SP (Loka Penelitian Penyakit Tungro)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar