Balitbangtan-Pusat KLN Kemtan Koordinasi Tenaga Ahli Sudan dan Madagaskar 2014

Bertempat di ruang rapat I Puslitbangtan, Bogor, Badan Litbang Pertanian  bersama Pusat Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pertanian kembali melakukan pertemuan untuk melakukan koordinasi dalam rangka menindaklanjuti rencana pilot project Pengembangan Padi Indonesia di Sudan serta pengembangan Sistem Produksi Kedelai Indonesia di Madagaskar pada Kamis (6/3). Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Kabid KSPHP Puslitbangtan Dr. I Ketut Kariyasa dan dihadiri oleh para tenaga ahli Puslitbangtan Prof Karim Makarim, tenaga ahli Balitkabi Prof Sudaryono dan Dr Suharsono, Kasubbag Kerjasama Badan Litbang Pertanian Seta Agustina, MSc serta perwakilan dari Pusat KLN  Kementerian Pertanian, BB Padi, dan BBSDLP sepakat akan memberi dukungan terhadap Kementerian Pertanian RI dengan mengirimkan kembali tenaga ahli untuk mengimplementasikan demonstration plot di Sudan dan Madagaskar di tahun 2014.

Catatan redaksi menyebutkan bahwa pengiriman tenaga ahli Sudan dan Madagaskar sedianya akan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama pengiriman akan dilakukan mulai bulan Maret ini hingga Agustus, sedangkan untuk tahap kedua pengiriman akan dilakukan terhitung mulai bulan Agustus hingga Desember 2014. Berdasarkan jadwal tersebut, maka rencananya Prof Karim Makarim akan didampingi secara bergantian oleh dua peneliti Balitklimat Dr. Budi Kartiwa (April-Juni) dan Ir Adang Hamdani (Juni-September) guna mengimplementasikan design project yang telah dirancang sebelumnya. Untuk tahap selanjutnya di bulan Juni hingga September, menurut Prof Karim Makarim, akan ditangani oleh tenaga pendukung dari BB Mektan untuk menangani mekanisasi pertanian, BB Pascapanen, dan BB Padi. “Sekitar 10 varietas padi rencananya akan ditanam di demplot. Tujuh varietas asal Indonesia yaitu Ciherang, Inpari 8, Inpari 9, Inpari 17, Inpari 4, Inpago 8, dan Inpago 9. Sedangkan varietas padi Sudan adalah Nerica 4, Kosti-1, dan Kosti-2. Mudah-mudahan ketersediaan benih kita dapat terpenuhi untuk dibawa ke sana,” tutur profesor yang telah menghabiskan waktunya sebulan penuh di Sudan pada akhir tahun 2013 lalu.  


Tujuan dari pilot project pengembangan padi di Sudan adalah memperkenalkan teknologi budidaya padi Indonesia, meningkatkan produktivitas pertanian melalui demonstration farm, dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui demonstrasi plot dan penelitian bersama.

Sementara itu, untuk mengimplementasikan demonstration plot kedelai di Madagaskar, beberapa tenaga ahli asal Balitkabi juga dijadwalkan untuk bertugas. Para tenaga ahli tersebut antara lain, Dr Suharsono (proteksi), Heru Kuswantoro (pemuliaan), Prof. Sudaryono (ilmu tanah), Ir. Erliana Ginting (pascapanen), Ir. Yudi Widodo (agronomis), dan Soeprapto, Sp (pascapanen). Secara bergantian, mulai April hingga Desember 2014, para tenaga ahli asal Balitkabi ini akan mendedikasikan waktu dan pikirannya terhadap pengembangan sistem produksi kedelai pada lahan kira-kira seluas 5 hektar dengan tujuan yang tidak jauh berbeda dengan proyek di Sudan yaitu memperkenalkan teknologi budidaya kedelai Indonesia, meningkatkan produktivitas pertanian melalui demonstration farm dan meningkatkan keterampilan petani melalui demonstration plot serta memberikan pelatihan dalam hal penanganan pascapanen dan pengolahan makanan.



“Lahan pertanian di Madagaskar sejatinya sangat luas serta belum diusahakan secara intensif dan produktif,” kata Prof Sudaryono. Lebih jauh, dalam laporan tertulisnya yang disusun setelah melakukan feasibility study di Madagaskar akhir tahun 2013 lalu, ia juga menyebutkan jika praktik budidaya konvensional petani dapat ditingkatkan dengan teknologi inovatif  menjadi 1,5 – 2,0 t/ha, Madagaskar akan memperoleh produksi kedelai nasional lebih dari 2.000.000  kg (2,0 juta ton). Data menunjukkan bahwa konsumsi kedelai di Madagaskar mencapai 975,0 metrik ton. Potensi kelebihan produksi kedelai tersebut   merupakan nilai yang cukup fantastik untuk masuk  pasar kedelai di tingkat internasional. Meski begitu, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan untuk dapat memanfaatkan potensi yang ada. (hry)

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar