Rekayasa Ekologi untuk Pengendalian Hama Padi

Pengendalian hama secara ekologi merupakan strategi untuk membuat populasi hama serendah mungkin dengan menggunakan pendekatan hubungan antara serangga dan segala aspek lingkungannya. Salah satu strategi yang dikembangkan saat ini adalah rekayasa ekologi dengan menanam tumbuhan berbunga dan palawija. Untuk mendapatkan informasi mengenai hal tersebut, sebuah penelitian telah dilakukan di lahan petani di Kabupaten Subang pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2012. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan meliputi: A-bunga Sesamum orientale (L) (Pedaliaceae); B-bunga Wedelia trilobata (L) (Asteraceae); C-jagung; D-kedelai; E-kombinasi bunga Sesamum orientale (L) (Pedaliaceae) dengan jagung; F-kombinasi bunga Wedelia trilobata (L) (Asteraceae) dengan jagung; G-kombinasi bunga Sesamum orientale (L) (Pedaliaceae) dengan kedelai; H-kombinasi bunga Wedelia trilobata (L) (Asteraceae) dengan kedelai; dan I-perlakuan sesuai petani (kontrol=tanpa tumbuhan berbunga dan palawija). Tumbuhan berbunga dan palawija  ditanam di pematang lahan petani masing-masing dalam luasan 0.25 ha tanpa penggunaan insektisida dan sebagai pembanding digunakan lahan seluas 0.25 ha dengan perlakuan sesuai petani. Jarak dari satu lahan petani dengan lahan petani yang digunakan untuk percobaan adalah 50 m. Total luas lahan yang digunakan untuk percobaan adalah 67.500 m2 (=7 ha). Varietas padi yang digunakan dalam percobaan adalah varietas Mekongga, dan palawija yang digunakan adalah jagung Sweet Corn Super Bee, kedelai varietas Grobogan dan wijen varietas Sumberejo 1. Variabel yang diamati adalah populasi dan tingkat serangan hama yang ada di pertanaman padi, populasi parasitoid, populasi predator, dan hasil panen tanaman padi, palawija, serta tumbuhan berbunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekayasa ekologi dengan menanam tumbuhan berbunga dan palawija di pematang ada indikasi mampu menekan populasi hama wereng coklat, wereng punggung putih, dan  lembing batu. Tetapi belum terlihat perannya dalam menekan hama penggerek batang padi kuning, belum terlihat perannya dalam meningkatkan hasil padi dan belum meningkatkan parasitisasi dari parasitoid. Tingkat parasitisasi dari parasitoid rendah berkisar 39.57 - 55.34% (MT-1) dan 30.67 – 64.50% (MT-2). Selain itu, belum terlihat perannya dalam menstabilkan populasi serangga berguna (netral, predator, dan parasitoid) pada setiap stadia tanaman. Populasi serangga berguna tinggi pada awal tanam dan trend nya menurun seiring dengan meningkatnya stadia tanaman. Populasi serangga netral mendominasi pada awal tanam, sementara pada anakan maksimum sampai menjelang panen didominasi oleh predator. Sebaliknya untuk populasi serangga parasitoid terlihat rendah pada setiap stadia tanaman. Namun demikian, rekayasa ekologi dengan menanam tumbuhan berbunga dan palawija di pematang memberikan nilai tambah bagi petani terutama pada perlakuan jagung diikuti kombinasi Wedelia trilobata (L) dengan jagung, kedelai, dan wijen, dengan penambahan hasil berturut-turut Rp 693.300, Rp 580.114, Rp 124.414, dan Rp 86.819 pada MT-1 dan pada perlakuan kombinasi Sesamum orientale (L) dengan jagung diikuti kombinasi Wedelia trilobata (L) dengan kedelai, jagung, dan kedelai dengan penambahan hasil berturut-turut Rp 507.759, Rp 85.511, Rp 74.046, dan Rp 65.925 pada MT-2 dalam luasan plot masing-masing 0.25 ha dan luas pematang 5% dari luasan plot (125 m2).


Sumber: N. Usyati (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar