Bio-Lec: Biopestisida Multifungsi

Ketergantungan petani terhadap pestisida kimia dalam mengendalikan organisme tanaman (OPT) semakin meningkat karena ledakan hama (outbreak) terus meningkat dari musim ke musim. Dengan demikian, petani terus berupaya keras untuk menyelamatkan tanamannya meski terkadang cara pengendalian maupun jenis pengendalian yang dilakukan juga salah. Tidak jarang petani menggunakan oli bekas yang dicampur dengan deterjen karena sudah kehabisan akal untuk mencari solusi pemecahannya. Kondisi seperti ini terjadi karena harga pestisida kimia meningkat terus sehingga sulit dijangkau petani. Cara pengendalian lain sebagai alternatif pengganti insektisida kimia sangat diharapkan oleh petani terutama yang murah, efektif dan tidak menyebabkan resistensi.

Bio-Lec, merupakan biopestisida yang mengandung konidia cendawan entomopatogen efektif untuk mengendalikan hama pengisap polong kedelai (Riptortus linearis). Produk Bio-Lec juga efektif untuk menekan perkembangan hama kutu kebul (Bemisia tabaci). Bio-Lec memiliki berbagai keunggulan meliputi; (1) mempunyai serangga inang yang cukup luas (Hemiptera, Homoptera, Coleoptera, Lepidoptera, Nematoda parasit tanaman), (2) bersifat ovisidal yaitu mampu menggagalkan penetasan telur serangga, (3) mampu membunuh stadia nimfa maupun imago, (4) tidak menyebabkan resistensi, (5) aman terhadap lingkungan termasuk serangga berguna, (6) mudah diperbanyak tanpa membutuhkan sarana yang mahal, (7) mampu memarasit spora cendawan penyebab penyakit tanaman, dan (8) kompatibel dengan cara pengendalian hama lain.

Mekanisme kerja (mode of action) Bio-Lec dalam membunuh stadia telur: konidia sebagai bahan aktif produk Bio-Lec yang terformulasi dalam bentuk powder jika dicampur dengan air selama 10 jam akan berkecambah membentuk tabung kecambah (germ tube). Pada kondisi tersebut konidia memproduksi enzim kitinase, protease, dan lipase yang berguna untuk mendegradasi struktur dinding kulit telur (chorion). Tabung kecambah (germ tube) yang terbentuk menembus korion melalui lubang alami telur (micropyle) kemudian membentuk miselium yang digunakan untuk mengabsorbsi isi telur yang mengandung protein, karbohidrat dan lemak. Selanjutnya, miselium cendawan tumbuh keluar menembus korion dan menyelimuti seluruh permukaan korion sehingga telur tidak menetas. Efikasi Bio-Lec dalam membunuh telur kepik coklat (Riptortus linearis) cukup signifikan karena mencapai 80% telur tidak menetas. Meski telur mampu menetas membentuk nimfa I, tetapi nimfa yang berkembang akhirnya juga mati karena gagal berganti kulit (moulting). Dengan demikian, peluang nimfa yang hidup untuk berkembang jadi imago sangat rendah tidak lebih dari 20% jika pada stadia telur sudah terinfeksi produk Bio-Lec.

Mekanisme Bio-Lec membunuh serangga inang; enzim yang diproduksi cendawan ini mampu mendegradasi struktur integumen serangga yang mengandung kitin, lemak dan karbohidrat. Setelah tabung kecambah berhasil menembus integumen dan menembus kutikula serangga, maka miselium mengambil nutrisi di dalam tubuh serangga yaitu darah (hemolymph). Selanjutnya, miselium tumbuh memenuhi saluran hemosoel kemudian menghasilkan berbagai jenis senyawa metabolit/toksin antara lain dipicolinic acid, cyclosporine, bassionalide, beauvericin, dan hydrocarboxylic untuk membunuh serangga sasaran. Miselium tumbuh keluar menembus saluran pernafasan maupun kutikula kemudian menyelimuti seluruh permukaan tubuh serangga kemudian cendawan memproduksi konidia sebagai alat infektif atau sebagai alat transmisi ke serangga inang lain (diseminasi).

Keunggulan Bio-Lec selain toksik terhadap hama sasaran, juga mampu memparasitasi beberapa spora cendawan penyebab penyakit kedelai yang bersifat obligat, yaitu karat daun (Phakopsora pachyrhizi), downy mildew (Peronospora manshurica) dan powdery mildew (Microsphaera diffusa). Hasil uji efikasi di laboratorium menunjukkan bahwa produk Bio-Lec mampu menekan perkembangan ketiga jenis penyakit kedelai di atas hingga mencapai 30%.

Hasil penelitian terbaru ditunjukkan dari efikasi Bio-Lec karena efektif membunuh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) yang menjadi masalah utama tanaman kedelai maupun beberapa jenis tanaman hortikultura jika ditanam pada musim kemarau. Indikasi efikasi tampak dari daun kedelai yang memperoleh aplikasi Bio-Lec yaitu tidak ditemukan tumbuhnya cendawan jelaga yang berwarna hitam pada permukaan daun atas sehingga proses fotosintesis tanaman tidak terganggu.

Dari studi keamanan lingkungan mengindikasikan bahwa Bio-Lec tidak berpengaruh negatif terhadap kelangsungan hidup serangga predator dari ordo Coleoptera (Coccinella sp. dan Paederus sp.) serta Ordo Araneida (Oxyopes sp.). Oleh karena itu, Bio-Lec cukup prospektif untuk dikembangkan menjadi salah satu biopestisida yang multi fungsi untuk pengendalian hama penyakit utama khususnya kedelai.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar