Perpadian di Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah pusat ekonomi beras dunia dan telah menjadi net eksportir beras selama satu abad terakhir. Asia Tenggara mempunyai dua dari tiga top eksportir beras dunia (Thailand, Vietnam, dan India) tetapi juga mempunyai dua negara pengimpor beras terbesar di dunia (Indonesia dan Filipina). Mengapa beberapa negara di kawasan ini swasembada beras sementara yang lain tidak?

Swasembada beras dicapai ketika produksi melebihi konsumsi, sehingga konsumsi beras yang lebih rendah dapat  mempercepat dalam pencapaian swasembada beras. Namun, penduduk di negara-negara pengimpor beras tradisional (Indonesia, Filipina, dan Malaysia) ternyata mengkonsumsi beras lebih sedikit dan alasan produksi padi per kapita lebih tinggi di negara eksportir ternyata bukan karena produktivitas yang lebih tinggi.

Secara teoritis, negara-negara pengekspor mungkin memiliki luas lahan sawah per kapita lebih tinggi dapat disebabkan: (a) lahan mereka lebih cocok untuk menanam padi (dibandingkan tanaman lain), (b) intensitas tanam (jumlah tanaman yang ditanam per unit areal) lebih tinggi, (c) lebih banyak lahan yang digunakan untuk pertanian, (d) atau tanah lebih tersedia karena tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Secara empiris, proporsi produksi padi per kapita versus  persentase luas panen padi terhadap total panen seluruh komoditas memberikan hubungan korelasi  yang tinggi di setiap negara Asia Tenggara (R2 = 0,92). Variabel lainnya menjadi kurang penting, seperti jumlah lahan yang tersedia per kapita mirip bagi banyak pasang negara importir dan eksportir.

Gambaran umum dari lima negara pengekspor beras (Myanmar, Vietnam, Thailand, Laos, dan Kamboja) adalah bahwa mereka semua berada di daratan Asia Tenggara, sedangkan negara-negara importir beras merupakan negara kepulauan dan semenanjung. Mengapa demografi bisa membuat perbedaan status perdagangan beras? Negara-negara di daratan memiliki dominan delta sungai  yang menyediakan cukup air dan tanah yang datar, yang membuatnya lebih mudah untuk mengontrol air. Lingkungan seperti itu cocok untuk budidaya padi. Importir beras utama di Asia juga merupakan negara kepulauan atau semenanjung seperti Jepang, Korea, dan Sri Lanka. Dengan demikian, dalam mencapai swasembada beras, negara kepulauan memiliki kelemahan alami. Akibatnya, mereka tidak dapat bersaing pada marjin yang sama dengan eksportir beras daratan. Selain pola geografis, juga didukung oleh pola temporal yang konsisten. Malaysia, Indonesia, dan Filipina telah mengimpor beras untuk lebih dari satu abad, sementara negara-negara lain telah menjadi eksportir untuk sebagian besar periode waktu tersebut.

Haruskah negara pengimpor beras mencoba untuk meniru negara pengekspor dengan meningkatkan proporsi area yang dikhususkan untuk menanam padi?. Masalah dengan strategi tersebut adalah bahwa ada alasan yang sangat baik mengapa sedikit petani menanam padi di negara-negara pengimpor, yaitu adanya tanaman lain yang lebih menguntungkan. Memaksa petani untuk menanam padi akan mengurangi pendapatan mereka dan akan bertentangan dengan ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga.

Negara importir beras menghadapi trade-off antara swasembada nasional (yang sering disamakan dengan ketahanan pangan nasional) dan ketahanan pangan rumah tangga. Kebijakan membatasi impor untuk mencapai swasembada nasional dan mengurangi ketergantungan pada pasar dunia, akan menaikkan harga dalam negeri, yang mengurangi ketahanan pangan rumah tangga karena sebagian besar masyarakat miskin harus membeli beras mereka di pasar dan dirugikan oleh harga yang lebih tinggi. Harga domestik yang lebih tinggi juga mengakibatkan biaya lain, seperti berkurangnya diversifikasi usahatani, gizi buruk, dan kurang daya saing di sektor-sektor ekonomi lainnya. Biaya-biaya tersebut harus dipertimbangkan dalam desain kebijakan nasional.

Sumber: Zulkifli Zaini (Prof Riset Puslitbang Tanaman Pangan/Kepala Perwakilan IRRI Indonesia)

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar