Vati 1 dan Vati 2 Sebuah Keniscayaan Peningkatan Produktivitas Ubi Kayu Nasional

Ubi kayu atau yang lebih populer di kenal oleh masyarakat dengan nama sebutan singkong, bahkan ada juga dibeberapa daerah yang menyebutnya dengan nama ketela pohon. Komoditas tanaman pangan yang kian hari makin digemari oleh masyarakat, merupakan komoditas penting dan strategis di Indonesia. Pasalnya banyak industri membutuhkan ubi kayu untuk dijadikan sebagai bahan baku pada produksi yang dihasilkannya.

Ubi kayu memiliki banyak keistimewaan sebagai penghasil pati dibandingkan tanaman penghasil pati lain. Oleh karenanya, selain untuk industri makanan, ubi kayu juga sangat dibutuhkan oleh industri non pangan sebagai bahan bakunya seperti pada industri tekstil dan industri lainnya. Pada tahun 2020, kebutuhan Indonesia terhadap tepung tapioca/ubi kayu untuk industri mencapai 9-10 juta ton.

Ragam permasalahan pun menjadi penghambat untuk perkembangan ubi kayu, salah satunya adalah lahan usahataninya yang semakin menyusut. Berdasarkan Statistik Pertanian 2018, luas lahan panen ubi kayu hanya seluas 793 ribu hektar berkurang 1 juta hektar dari tahun 2014. Salah satu upaya untuk mengatasi kekurangan bahan baku ubi kayu yakni harus meningkatkan produktivitas ubi kayu yang saat ini di tingkat petani rata-ratanya hanya 20 t/ha.

Kementerian Pertanian telah melepas dua varietas ubi kayu dengan produktivitas tinggi yakni varietas Vati 1 dan Vati 2. Varietas yang dilepas tahun 2018 ini hasil rakitan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.

Ubi kayu varietas Vati 1 memiliki potensi hasil 46,9 t/ha dengan rata-rata 37,5 t/ha. Umur panennya genjah, yaitu 7 bulan umbi sudah mencapai sekitar 4‒5 kg / tanaman. Selain itu, Varietas Vati 1 memiliki keistimewaan lainnya yaitu memiliki kadar bahan kering umbi 48,5%, kadar pati 21,9%, rendemen pati 26,7%, dan kadar gula total tertinggi 43,0%.

Berbeda dengan varietas Vati 1, varietas Vati 2 memiliki potensi hasil lebih tinggi yaitu 66,8 t/ha dengan rata-rata potensi hasilnya 42,5 t/ha. Namun varietas Vati 2 memiliki umur lebih panjang dari varietas Vati 1 yaitu sekitar 9-10 bulan.

Karena ubi kayu merupakan komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harapan kedepannya pasokan ubi kayu harus bisa mencukupi kebutuhan industri dan dapat menjadi pendorong berkembangnya UMKM yang ditopang dari produksi ubi kayu dalam negeri. (Lila/Uje)

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar