Seminar Bulan Maret 2020 Puslitbang Tanaman Pangan

Dalam rangka penyebar luasan informasi hasil-hasil penelitian kepada masyarakat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) menyelenggarakan seminar bulanan yang diselenggarakan satu bulan sekali. Seminar hasil penelitian dari kegiatan para peneliti lingkup Puslitbangtan kali ini diselenggarakan pada hari Kamis (05/02) di Aula Padi Puslitbangtan, Bogor.

Pada seminar kali ini sebagai moderator Dr. Yulia Pujiharti, MS yang menghadirkan dua narasumber yaitu Prof. Dr. I Nyoman Widiarta, MSc peneliti dari Puslitbangtan dengan judul Model Desa Mandiri Benih Untuk Produksi Benih Mandiri dan Berkelanjutan dan Dr. Nafisah, MSc peneliti dari Balai Besar Penelitian Tanama Padi (BB Padi) dengan judul Adaptasi Galur-galut Elit Toleran Salin di Berbagai Daerah Sentra Produksi Padi.

Dalam paparannya Prof. Dr. I Nyoman Widiarta, MSc menyampaikan bahwa ketersediaan benih bermutu (bersertifikat) belum menjangkau keseluruhan areal tanam, sebagian masih menggunakan benih hasil produksi sendiri atau dari petani lain yang tidak terjamin mutunya (benih asalan) dan benih varietas unggul yang baru dilepas tidak tersedia di pasaran. Produsen benih skala besar belum memproduksi benihnya karena belum sesuai dengan kebutuhan pasar. Implikasi dari produksi benih oleh produsen benih berdasarkan permintaan pasar adalah benih bersertifikat yang diproduksi didominasi varietas lama dan jumlahnya tidak cukup untuk luas areal tanam yang ada, karena keterbatasan daya adaptasi terhadap cekaman lingkungan spesifik.

Lebih lanjut menurut Nyoman, Pemerintah masih fokus membina dan mengatur perbenihan komersial dan kurang memperhatikan perbenihan berbasis masyarakat, sehingga adopsi VUB yang memiliki keunggulan adaptif spesifik lokasi dan lebih tinggi potensi produktivitasnya menjadi lambat dibanding varietas popular. Selain itu, pemakaian benih bersertifikat yang masih terbatas, menyebabkan peningkatan produktivitas dan produksi menjadi lambat. Pemerintah perlu mengembangkan lebih luas lagi Model Desa Mandiri Benih yang telah dibangun sejak tahun 2015 dan dapat dijadikan rujukan untuk mengembangkan Desa Mandiri Benih secara lebih luas.

“Sebab Model Desa Mandiri Benih dilaksanakan melalui jaringan UPBS Balit-BPTP untuk penyediaan benih sumber dengan praktek langsung produksi benih oleh petani dalam sekolah lapang (SL)”, ujar Nyoman.

Selanjutnya narasumber yang kedua Dr. Nafisah, MSc peneliti dari Balai Besar Penelitian Tanama Padi (BB Padi) menyampaikan paparannya yang berjudul Adaptasi Galur-galut Elit Toleran Salin di Berbagai Daerah Sentra Produksi Padi.

Nafisah dalam penelitiannya telah melakukan pengujian adaptasi terhadap 12 galur elit padi toleran salin. Pengujian dilaksanakan di 6 lokasi pengujian di sentra produksi padi daerah pesisir pantai dan 2 varietas pembanding (Mekongga dan Inpari 35).

Lebih lanjut Nafisah memaparkan hasil uji adaftasi tersebut ada dua galur yang teridentifikasi  memiliki hasil signifikan lebih tinggi (9-30%) dari ke dua varietas pembanding.

“Dua galur sama-sama toleran terhadap salin, namun kedua galur tersebut lebih tahan terhadap OPT serta mempunyai mutu beras yang lebih bagus dari pembanding” ujar Nafisah.

Diakhir paparanya Nafisah akan mengusulkan kedua varietas tersebut sebagai calon varietas baru. Adanya kedua calon varietas tersebut merupakan salah satu upaya dalam mengurangi tingginya kehilangan hasil padi di lahan berdampak cekaman salinitas. (Uje/RTPH)

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar