Tindaklanjut Kerjasama Balitbangtan dengan Elite Agro Group (EAG) - Uni Emirat Arab (UEA)

Jakarta (21/02), Bertempat di Gedung A Kementerian Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) bahas implementasi kerjasama agribisnis tebu, kedelai, padi, bawang putih dan jagung bersama CEO Elite Agro Group (EAG) LLC, Dr. Abdulmonem Al Marzooqi dan Dr. Emil Michel Moukarzel.

Pertemuan tersebut adalah tindak lanjut dari pertukaran dokumen kerjasama antara Kementerian Pertanian RI, yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno L. Marsudi dihadapan Presiden Joko Widodo dan Putra Mahkota (Persatuan Emirat Arab) PEA Muhammed bin Zayed Al Nahyan di Abu Dhabi, pada 12 Januari 2020.

Acara pembahasan tindaklanjut kerjamasa dengan EAG LLC ini dihadiri oleh Plt. Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) bersama Kepala Puslitbangtan, Kepala Puslitbanghorti, Kepala Puslitbangbun, Kepala BBSDLP, Kepala Balitakabi, dan Kepala Balitsereal. Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Direktorat Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan, Biro KLN Kementerian Pertanian dan perwakilan dari BKPM serta perwakilan dari Kemenlu RI. Acara dipimpin langsung oleh Plt. Sekretaris Balitbangtan, Kementerian Pertanian Dr. Hardiyanto, MSc dan didampingi Kepala Puslitbangtan Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA.

Dr. Abdulmonem Al Marzooqi CEO Elite Agro Group (EAG) LLC, menyampaikan bahwa untuk mempermudah komunikasi pihaknya telah membentuk perusahaan dengan nama "Elite Agro-Indonesia" di Jakarta. Selanjutnya Elite Agro Group (EAG) akan menggunakan infrastruktur yang lebih baru dari teknologi yang ada di Al Ain PEA, dan segera melakukan instalasi teknologi terbaru di Balitsa, Lembang.

“Untuk mendatangkan infrastruktur tersebut kami berharap agar Kementerian Pertanian segera membahas tentang perizinan dan pembebasan tax barang masuk, perizinan tenggat waktu penggunaan smart green house, serta perizinan penggunaan/introduksi varietas Berries”, ujar Abdulmonem.

Lebih lanjut Abdulmonem mengatakan bahwa “koridor implementasi MoU diawali dengan Riset (sesuai tenggat waktu yang disepakati), hibah, dan komersialisasi produk, oleh karena itu kami membutuhkan informasi tentang land suitability analysis untuk pengembangan padi, jagung, kedelai, tebu, dan bawang putih” ujarnya.

Menindaklanjuti paparan CEO EAG tersebut Hardiyanto menyampaikan bahwa Badan Litbang Pertanian telah menyiapkan kerjasama ini, yang nantinya akan melibatkan petani dengan pola inti plasma, dan lahan yang digunakan adalah lahan HGU, khusus untuk buah Berries lahan dan petani sekitar Lembang akan dilibatkan. Selanjutnya, Badan Litbang Pertanian juga akan membentuk tim lintas Eselon 1, termasuk Biro Keuangan dan Perlengkapan, yang dipimpin oleh Setjen Kementan untuk koordinasi anggaran pengambilan peralatan smart green house yang akan didatangkan oleh EAG di pelabuhan serta segera menyusun Action Plan, Work Plan sebagai turunan dari MoU.
“Balitbangtan sudah menyiapkan VUB yang akan digunakan diantaranya padi, jagung, kedelai, tebu, dan bawang putih, diharapkan EAG dapat juga diarahkan bergerak pada industri perbenihan dan pengolahan”, ujar Hardiyanto

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar