Seminar Rutin Puslitbangtan Bahas Jagung dan Padi Gogo

Mengawali tahun 2020, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) menyelenggarakan Seminar bulanan yang diselenggarakan pada hari Selasa (29/01) di Aula Puslitbangtan, Bogor.

Seminar bulanan Puslitbangtan yang dipimpin oleh Kepala Sub Bidang Pendayagunaan Hasil Penelitian (Subbidang PHP) menghadirkan dua narasumber yaitu Yulia Pujiharti peneliti dari Puslitbangtan dengan judul Dinamika Produksi dan Perkembangan Ekspor Impor Jagung di Lampung dan Aris Hairmansis peneliti dari Balai Besar Penelitian Tanama Padi (BB Padi) dengan judul Varietas Unggul Baru Padi Gogo yang Adaptif di Lahan Kering Masam.

Dalam paparannya Yulia Pujiharti menyampaikan bahwa saat ini provinsi Lampung adalah penghasil jagung terbesar ketiga setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Produksinya pun dari tahun ke tahun terus meningkat, terutama dalam lima tahun terakhir.

“Produksi jagung di Lampung dalam lima tahun terakhir terus meningkat dengan peningkatan sebesar 43,1%, namun peningkatan ini belum mampu untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Lampung sendiri”, ujar Yulia.

Lebih lanjut Yulia berharap agar “Provinsi Lampung mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan produksi jagung salah satunya adalah menambah luas tanam jagung dengan menerapkan teknologi seperti tumpang sari jagung dengan tanaman pangan lainnya atau tanaman perkebunan untuk menambah luas panen jagung” ucapnya.

Aris Hairmansis, peneliti BB Padi dengan paparan yang berjudul Varietas Unggul Baru Padi Gogo yang Adaptif di Lahan Kering Masam menjelaskan bahwa meningkatkan produksi padi di lahan kering dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain kekeringan, keracunan aluminium, kemasaman tanah, status c-organik dan hara yang rendah serta penyakit blas.

“Varietas Inpago 12 Agritan yang dilepas tahun 2017 adalah varietas yang adaptif di Lahan Kering Masam dengan potensi hasilnya bisa mencapai 10.2 ton/ha”, ujar Aris

Sesuai dengan deskripsinya varietas Inpago 12 Agritan adalah varietas yang toleran terhadap keracunan aluminium hingga 40 ppm Al3+ sehingga cocok ditanam di lahan kering masam. Rata-rata hasil gabah kering giling yang diperoleh dari uji adaptasi dibeberapa lokasi sebesar 6.7 ton/ha, hampir dua kali rata-rata hasil padi gogo nasional. (Uje/RTPH)

Berita Terkait

//

Belum Ada Komentar

Isi Komentar