Seminar Internasional Pangan Sehat dan Berkecukupan Secara Berkelanjutan

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BALITBANGTAN) Kementerian Pertanian melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Penelitian Tanaman Serealia (BALITSEREAL) bekerja sama dengan International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT) dan Kementerian RISTEK DIKTI melaksanakan seminar internasional dengan tema “International Conference on Sustainable Cereals and Crops Production Systems in The Tropics (ICFST)”. Konferensi internasional ini bertujuan untuk bertukar informasi hasil-hasil penelitian dan strategi pengembangan tanaman pangan utama (padi, jagung, sorgum, gandum dan umbi-umbian). Diharapkan dari seminar ini dapat dibangun jejaring kerjasama penelitian dan pengembangan komoditas tanaman pangan dalam menjawab tantangan dan permasalahan global tentang penyediaan pangan yang sehat dan berkecukupan secara berkelanjutan.

Seminar dibuka oleh Gubernur Sulawesi Selatan Prof. Dr. Ir. H.M. Nurdin Abdullah, M.Agr, sekaligus sebagai salah satu pembicara utama (keynote speaker) pada seminar internasional ini. Gubernur dalam penyampaiannnya bahwa Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) telah berkontribusi nyata dalam penyediaan pangan secara nasional. Sebagian besar produksi pangan sudah surplus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sulsel dan telah didistribusikan ke beberapa provinsi lainnya. Produksi padi di Sulsel telah mencapai 6  juta ton demikian juga jagung telah berproduksi 2,5 juta ton. Keberhasilan produksi tersebut antara lain didukung oleh penerapan inovasi teknologi yang telah dihasilkan oleh para peneliti Balitbangtan.

Indonesia dalam 4 tahun terakhir (2015-2018) melakukan berbagai upaya sehingga terjadi peningkatan produksi pangan secara signifikan. Berdasarkan data BPS produksi pangan strategis antara lain (1) produksi padi pada tahun 2014 sebesar 70,85 juta ton GKG dan pada tahun 2018 meningkat menjadi 83,04 juta ton GKG atau naik rata-rata 4,3%/tahun, (2) produksi jagung tahun 2014 sebesar 19 juta ton dan pada tahun 2018 sebesar 30,05 juta ton atau naik rata-rata 14,5%/tahun, (3) produksi kedelai tahun 2014 sebesar 955 ribu ton naik menjadi 983 ribu ton pada tahun 2018 atau rata-rata naik sebesar 0,73%/tahun.

Produksi padi pada 2018 sebanyak 83,04 juta ton  GKG setara dengan 48,3 juta ton beras. Angka ini tercatat masih surplus dibandingkan dengan angka konsumsi sebesar 30,4 juta ton beras. Begitu juga dengan jagung, pada periode yang sama produksinya mencapai 30,05 juta ton pipil kering (PK), sedangkan kebutuhan sekitar 15,58 juta ton PK sehingga surplus sekitar 14 juta ton.  Capaian peningkatan produksi ini menyebabkan  peringkat indeks ketahanan pangan Indonesia naik dari peringkat 69 menjadi peringkat 65.

Peningkatan produksi pangan ini  menyebabkan kenaikan nilai tukar petani, Data BPS menujukkan bahwa kenaikan nilai tukar petani meningkat sebesar 0,42% periode tahun 2014 ke tahun 2018, sedang nilai tukar usaha petani mengalamii kenaikan sebesar 5,42%. Kenaikan nilai tukar petani ini juga diiringi dengan jumlah penduduk miskin pedesaan yang mengalami penurunan dari 14,32% pada tahun 2013 menjadi 13,20% pada tahun 2018.

Strategi produksi pangan Indonesia adalah menjadi Lumbung Pangan Dunia tahun 2045, dimana Indonesia menjadi salah satu negara penyuplai kebutuhan pangan dunia, karena itu inovasi teknologi moderen sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produksi pangan. Industri Pertanian 4.0 sudah menjadi keharusan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, dan strategi pemasaran. Pemanfaatan intelegensi buatan (artificial intelegence) menggunakan gadget, komputer, drone dan lainnya untuk menentukan manajemen produksi tanaman yang spesifik dan presisi (penggunaan lahan, benih/varietas, pupuk, air, pengendalian hama penyakit, dan penggunaan alsintan) dalam meningkatkan produksi secara efisien akan menjadi perhatian yang serius, karena itu hasil-hasil penelitian para pakar dibidangnya sangat diperlukan.

Upaya memantapkan Provinsi Sulsel sebagai lumbung pangan nasional perlu terus dilakukan. Dimana perbenihan merupakan salah satu aspek penting yang menjadi fokus pengembangan secara intensif. Perjalanan menjadikan Sulsel sebagai pusat perbenihan pangan, khususnya jagung hibrida  di Wilayah Indonesia Timur, telah diawali sejak tahun 2019 dengan uji coba produksi benih jagung hibrida JH 37 berbasis korporasi di Takalar.  Selanjutnya untuk tahun 2020 telah diprogramkan dengan luasan 700 ha. Program produksi benih jagung hibrida berbasis korporasi dengan sumber dana APBN dan APBD bekerjasama dengan BALITBANGTAN. 

Provinsi Sulsel berkomitmen untuk tetap fokus pada pembangunan sektor pertanian. Hasil pembangunan ekonomi bertumpu pada pertanian menempatkan pertumbuhan ekonomi Sulsel terbaik di Indonesia. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Sulsel pada 2018 sebesar 7,07 % yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan eknomi nasional yang hanya 5,17%. Ini tidak terlepas dari pembangunan yang difokuskan pada sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan. (RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar