Tingkatkan Kapasitas Penyuluh Yogyakarta dengan Bimtek LARGO SUPER

YOGYAKARTA - Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) mendukung Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Largo Super (28/08) bertempat di Aula BPTP Yogyakarta. Acara dibuka langsung oleh Kepala BPTP DIY, Dr. Ir. Joko Pramono, MP dan dihadiri oleh penyuluh pertanian ASN, THL TBPP dan penyuluh swadaya perwakilan dari 20 BPP dari empat Kabupaten se DIY.

Dalam sambutannya Dr. Ir. Joko Pramono, MP berharap “informasi teknologi yang telah diterima oleh para penyuluh agar disampaikan dan dipraktekkan langsung dengan para petani di masing-masing wilayah kerja, sehingga dapat mempercepat proses penerapan dan penyebaran teknologi pertanian (adopsi dan difusi) di DIY” ujar Joko Pramono.

Acara Bimtek tersebut diselenggarakan oleh BPTP Yogyakarta yang merupakan salah satu acara dari rangkaian Gelaran “Agro Inovasi Kemerdekaan” yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penyuluh tentang inovasi teknologi pertanian. Dr. Agus Wahyana Anggara, SSi, MSi, selaku narasumber dari Puslitbangtan menyampaikan materi tentang sistem tanam lahan kering yakni sistem tanam Larikan Gogo (LARGO Super) serta menayangkan film pendek keberhasilan LARGO Super di 3 Provinsi di Indonesia. Keseriusan peserta yang hadir menyimak materi tersebut, sehingga pada sesi diskusi banyak yang mengajukan pertanyaan dan bahkan ada yang menyampaikan pengalaman dalam penerapan padi gogo di lahan sawah maupun di lahan kering.

Pertama kali Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengembangkan LARGO Super di lokasi dataran rendah seluas 100 hektare, tepatnya di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kebumen dipilih sebagai lokasi kajian karena wilayah lahan kering yang luas menghampar sepanjang Pantai Selatan baik ditanam secara terbuka maupun ditanami dibawah tanaman tahunan terutama kelapa. Dalam pengembangannya tersebut varietas yang digunakan adalah varietas Inpago 8, 9, 10, 11, IPB 8G, IPB 9G, HIPA dan Situ Patenggang, kemudian dalam penanaman wajib menggunakan alat larikan gogo serta ditambah pupuk hayati, pestisida nabati serta biodekomposer.

Hasil pengembangan di Kebumen cukup berhasil dan menurut tim BPS yang telah melakukan ubinan terhadap beberapa titik pertanaman LARGO bahwasannya provitas padi gogo di demfarm ini mencapai 7,9 ton/ha. Capaian ini meningkat hampir 3 ton dibandingkan rata-rata di tingkat petani yang hasilnya sekitar 4 ton/ha. (Uje/AWA/RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar