ISCO-ISS 5-7 Agustus 2019 di Bandung

Seminar Internasional dan Kongres Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (ISCO-ISS 2019) diselenggarakan pada 5-7 Agustus 2019 di Trans Luxury Hotel, Bandung. Dengan tema “Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Inovasi Pertanian menuju Lingkungan Berkelanjutan dan Ketahanan Pangan” menyadari bahwa tanah adalah sumber daya dasar untuk mendukung kehidupan. Tanah adalah kunci sumber daya untuk pertanian berkelanjutan, lingkungan, dan ketahanan pangan. Sangat penting untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan masalah tanah yang kompleks serta solusi untuk mengatasinya dan berharap dapat berbagi pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan untuk mengelola dan mempertahankan fungsi tanah dan tanah untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Acara ini juga mencari peningkatan jejaring dan penciptaan aliansi strategis antara berbagai pemangku kepentingan dan untuk membuat rekomendasi untuk pencapaian pengelolaan tanah, tanah, pertanian, dan lingkungan yang lebih baik. Seminar dan kongres dihadiri oleh sekitar 400 peserta dari delapan negara, termasuk peneliti, dosen, mahasiswa, lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah.

Tujuan dari kegiatan ini untuk berbagi ide dan temuan penelitian terbaru tentang pengelolaan sumber daya lahan dan inovasi pertanian untuk memperkuat lingkungan yang berkelanjutan dan ketahanan pangan, membangun jaringan antara akademisi, bisnis, dan praktisi pemerintah melalui pameran, dan untuk berkontribusi saran konsep dan strategi adaptif untuk mendukung kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan. Pada pameran tersebut, Puslitbang Tanaman Pangan menampilkan beberapa teknologi yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim global seperti kekeringan dan kebanjiran. Produk yang ditampilkan antara lain: Dering 2 dan Dering 3, varietas unggul kedelai yang toleran terhadap kekeringan, Deja 1 dan Deja 2, varietas yang toleran terhadap jenuh air, Demas varietas kedelai yang toleran lahan kering masam, Derap 1 varietas yang toleran hama penghisap polong dan Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida, kedelai hitam yang sesuai untuk bahan baku kedelai serta publikasi yang berupa leaflet dan juknis yang berkaitan dengan teknologi adaptif perubahan iklim. Kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi Puslitbang Tanaman Pangan, selain mendiseminasikan varietas-varietas yang adaptif tersebut juga bisa mengetahui pemasalahan-permasalahan yang ada di lapang terutama bagaimana mendapatkan benih tersebut. Ke depan kita perlu informasi mengenai varietas yang diperlukan masyarakat, dimana harus mendapatkan benihnya, berapa harganya, dll. (EH/RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar