Fall Armyworm (FAW) Ancam Swasembada Jagung Nasional

Swasembada jagung yang dicapai akhir-akhir ini mendapat ancaman dengan munculnya serangan ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda). Ulat grayak dengan nama Fall Armyworm (FAW) ini merupakan hama baru dan kali pertama ditemukan menyerang lahan petanaman jagung di Pasaman Barat pada Maret lalu. Hama ini kini mulai menyebar di Wilayah Sumatera dan saat ini sudah memasuki Pulau Jawa terutama di Banten dan Tegal.

Berdasarkan nama hama ini yakni ulat grayak, diketahui bahwa bahwa fase yang paling merusak dari hama jagung ini yaitu fase larva atau ulat. Hama ulat grayak merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung.

Bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0,2 – 0,8 larva per tanaman.

Upaya penanganan yang cepat dan tepat untuk mengendalikan serangan ulat grayak FAW di lapangan sangat dibutuhkan. Upaya tersebut dibedakan menjadi penanganan di daerah serangan dan daerah yang belum terserang. Penanganan untuk daerah yang telah diserang adalah dengan meminimalisir serangan dan dampak dari FAW tersebut, salah satunya dengan pengendalian secara mekanis maupun kimiawi (dengan insektisida). M. Azrai, Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia, menyampaikan bahwa Tanaman jagung yang sudah dewasa dan terkena serangan dikukan tindakan eradikasi. Pada tanaman muda, masih dapat dikendalikan secara kimia, yakni pengendalian dengan insektisida agar tanaman dapat segar kembali.

Keterlambatan dalam pengendalian serangan hama FAW ini akan mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Kehilangan hasil produksi akibat hama ini bisa mencapai 20% hingga 70% jika populasi tanaman yang terserang 55-100%. Upaya pencegahan oleh petani dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ulat grayak ini adalah dengan melakukan pengamatan secara langsung pada pertanaman jagung atau sistem scouting.

Pengamatan bisa dilakukan satu kali dalam seminggu dilakukan secara intensif. Dari hasil pengamatan berdasarkan sistem scouting tersebut, diharapkan petani mendapatkan pengetahuan langsung sehingga dapat mengambil keputusan untuk melakukan pengendalian yang tepat, efektif dan efisien ketika serangan hama ulat grayak ini sangat tinggi. Dengan demikian produksi jagung tetap dapat dipertahankan dengan lebih sedikit sumber daya yang terbuang, serta bersifat berkelanjutan.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda) ini, dapat dibaca di buku saku pada link berikut (Buku Saku). Buku ini berisikan awal mula berkembangnya hama FAW, penyebaran hama FAW antar benua serta teknologi praktis untuk pengendaliannya. (LEN/RTPH/UJE)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar