Asuransi Pertanian Melindungi Bagi Petani Padi

Resiko ketidakpastian disektor pertanian, khususnya usaha tani padi, terhitung masih tinggi. Perubahan iklim serta serangan penyakit/organisme pengganggu tanaman (OPT) saat ini masih menjadi penyebab terbesar kegagalan panen.

Untuk menghindarkan petani dari resiko tersebut, pemerintah saat ini telah memberikan solusi terbaik berupa program Asuransi Usaha Tani Padi yang disingkat dengan AUTP, yang diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap resiko ketidakpastian dengan menjamin petani mendapatkan modal kerja untuk berusaha tani dari klaim asuransi.

Asuransi Usaha Tani padi (AUTP) ini sudah diluncurkan sejak 2015. Tapi karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat, khususnya petani padi, maka belum banyak petani yang mengasuransikan usaha taninya. Namun demikian, seiring dengan semakin dikenalnya program ini, jumlah petani yang terdaftar sebagai peserta asuransi makin meningkat tiap tahun. Berdasarkan data Kementan 2018, realisasi AUTP sekitar 806.199,64 hektare dari target 1 juta hektare (80,62 persen), turun dibandingkan dengan tahun 2017 yang mencapai 997.961 hektare. Klaim tahun 2017 seluas 25.028 hektare, sedangkan klaim kerugian tahun 2018 hanya mencapai 12.194 hektare (1,51 persen). Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy, seperti dilansir dari lama tribunnews.com mengatakan bahwa target 1 juta hektar akan tercapai pada tahun 2019 ini.

Untuk memudahkan petani mendaftar pada program AUTP ini, pemerintah telah meluncurkan aplikasi SIAP (Sistem Asuransi Pertanian) yang bekerjasana dengan PT Jasa Asuransi Indonesia (JASINDO) Skema pembayaran premi asuransi dilakukan sebesar 80% premi disubsidi pemerintah, sedangkan kelompok tani membayar premi swadaya sebesar 20% proporsional sesuai luas area yang diasuransikan. Bukti transfernya akan diperoleh, untuk kemudian diserahkan kepada petugas asuransi yang akan mengeluarkan bukti asli pembayaran premi swadaya dan sertifikat asuransi kepada kelompok tani. Waktu pendaftaran dapat dimulai paling lambat satu bulan sebelum musim tanam dimulai.

Jika terjadi resiko terhadap tanaman yang diasuransikan, serta kerusakan tanaman atau gagal panen, maka klaim AUTP akan diproses jika memenuhi syarat yang telah ditentukan. Dengan terpenuhinya syarat dan ketentuan klaim, maka pihak perusahaan asuransi akan membayarkan klaim asuransi melalui transfer bank terhadap rekening kelompok tani.

Berdasarkan ketentuan dalam polis klaim akan diperoleh jika, intensitas kerusakan mencapai 75% berdasarkan luas petak alami tanaman padi. Pembayaran klaim untuk luas lahan satu hektar sebesar enam juta rupiah. Pembayaran ganti rugi atas klaim dilaksanakan paling lambat 14 hari kalender sejak Berita Acara Hasil Pemeriksaan Kerusakan. Pembayaran ganti rugi dilaksanakan melalui pemindah bukuan ke rekening. Dengan adanya Asuransi Usaha Tani Padi ini harapannya akan dapat membantu petani padi dalam meminimumnya resiko atas ketidakpastian dalam usaha tani padi yang digelutinya. (LEN/RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar