Membidik Kemandirian Pangan di Lahan Salin

Semenjak dilepas pada tahun 2014 kedua varietas padi yaitu Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan terus dikembangkan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) pada lahan sawah dengan cekaman salinitas. Salinitas merupakan salah satu ancaman yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan hasil panen akibat kadar garam yang cukup tinggi.

Pada tahun 2018, BB Padi, Balitabngtan, Kementerian Pertanian bersama Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaksanakan riset di Dusun Oring, Desa Lawallu, Kecamatan Soppengriaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Riset tersebut diberi nama INTAN-AP PANDU (Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Mina Padi-Air Payau Padi Udang Windu) yang pelaksanaanya menggabungkan budidaya udang windu yang biasanya hidup di wilayah laut dengan varietas padi yang toleran salinitas. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikan kejayaan udang windu di Sulawesi Selatan, sekaligus memberi harapan baru bagi kemandirian pangan daerah pesisir.

Riset menggunakan lahan idle (mengganggur) seluas ± 1 hektare yang terbagi ± 30 persen untuk caren udang dan ± 70 persen untuk lahan padi. Lahan tersebut merupakan lahan persawahan milik kelompok masyarakat yang sudah ditinggalkan kurang lebih 10 tahun karena dianggap tidak produktif.

Hasil riset tersebut cukup menjanjikan, karena padi varietas padi Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan mampu berproduksi pada air payau sampai 10 ppt (parts per thousand). Begitu juga dengan udang windu yang tadinya biasa hidup dengan air payau 45 ppt bisa diturunkan menjadi 10 ppt.

Berdasarkan hasil panen dalam satu kali masa tanam padi varietas Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan pada lahan mina padi tersebut seluas 0,7 hektar menghasilkan gabah 2,5 ton. Sedangkan sisanya seluas 0,3 hektar udang windu dapat menghasilkan sebanyak 216 kilogram. Total jumlah hasil pembudidaya minapadi dalam satu kali masa tanam mampu mendapatkan hasil senilai Rp 26 juta. Dengan rincian harga udang Rp. 75.000 per kg dan harga gabah kering panen Rp 4.000 per kg.

Keberhasilan budidaya minapadi tersebut sangat bergantung pada pemeliharaan dan manajemen lingkungan yang sesuai untuk kehidupan udang windu dan padi karena udang windu dan padi mempunyai toleransi salinitas yang berbeda. Untuk itu, kedepan upaya pengembangan dan keberlanjutan teknologi ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk secara bersama dapat mengawal kegiatan serupa dalam skala yang lebih luas. (RTPH/Uje)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar