SIWAKA V3 Simulasi Mendukung Swasembada Kedelai

Kedelai adalah komoditi strategis untuk meningkatkan kualitas SDM yang dapat memenuhi kebutuhan protein bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain itu kedelai juga sebagai sumber pangan kaya protein dan pangan fungsional yang mempunyai nilai strategis dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan, dimasa mendatang.

Kebutuhan kedelai di Indonesia cukup tinggi, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang diproyeksikan mencapai 319 juta pada tahun 2045 (BPS, 2018). Kebutuhan kedelai untuk konsumsi ini diproyeksikan akan meningkat rata-rata 2,44% per tahun. Sekitar 90% kedelai yang tersedia digunakan sebagai bahan pangan berupa tempe 50% dan tahu 40%, sedang sisanya untuk pakan ternak dan benih (FAOSTAT, 2005).
Menurut I Ketut Tastra dalam seminarnya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) dijelaskan bahwa “ada dua faktor kunci yang menyebabkan konsumsi kedelai terus meningkat menurut deret ukur yakni meningkatnya kesadaran masyarakat pada pangan fungsional berbasis kedelai dan bertambahnya jumlah penduduk”. Lanjutnya “naiknya kebutuhan kedelai tersebut tidak diimbangi dengan meningkatnya produksi dalam negeri sehingga 70% kedelai diimpor untuk mencukupi kebutuhan pangan berbasis kedelai” ujar Tastra.

Tingginya jumlah penduduk pada tahun 2045, maka Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitakabi) telah menyiapkan model simulasi untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menuju swasembada kedelai pada tahun tersebut. Model simulasi tersebut dinamakan SIWAKA.INS v.03 (Simulasi Swasembada Kedelai), pengguna cukup mengunjungi alamat https://insightmaker.com/insight/108161/SIWAKA-INS-v-03.

 

Aplikasi simulasi tersebut ada lima skenario yang harus dimasukan yaitu (1) Perluasan areal kedelai, PPA (%/tahun), (2) Peningkatan produktivitas kedelai, LAJUY (%/tahun), (3) Kehilangan hasil pasca panen, KHKDL (%/tahun), (4) Peningkatan jumlah penduduk, KB (%/tahun) dan (5) Peningkatan konsumsi kedelai, LAJUK (%/tahun) serta dua masukan pendukung (1) Maksimum luas lahan yang dapat diupayakan pemerintah, MLL (juta ha) dan (2) maksimum rata-rata hasil kedelai ditingkat petani, MHK (t/ha).

Dalam model tersebut dijelaskan bahwa untuk mencapai produksi kedelai pada tingkat swasembada atau cita-cita lumbung pangan kedelai tahun 2045 ingin tercapai, maka luas areal kedelai secara nasional minimal 2,5 juta ha dan maksimal 5,0 juta ha dalam kurun waktu 2020–2045, dengan tingkat hasil kedelai rata-rata 1,66‒2,5 t/ha. Strategi selanjutnya untuk mewujudkan ini adalah perlu dukungan serta komitmen dan kebijakan yang sinergis dari pemerintah, diantaranya melalui revitalisasi BULOG sebagai salah satu komponen penyangga Sistem Kedaulatan Pangan Nasional dan perubahan paradigma kebijakan pangan bahwa kedelai merupakan sumber protein dan pangan fungsional yang strategis untuk mencerdaskan sumber daya manusia Indonesia. (Uje/RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar