Tiga Varietas Kacang Tanah Toleran Hama Kutu Kebul Siap dilepas

Kutu Kebul adalah salah satu hama penting/utama yang saat ini sangat ditakuti oleh petani. Hama dalam bahasa latinnya Bemisia tabaci Gen. dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman, sehingga pada tingkat serangan berat menyebabkan kerugian bagi petani karena tidak mendapatkan hasil.

Kerusakan pada tanaman yang diakibatkan oleh hama kutu kebul karena stadia nimfa dan imagonya menghisap cairan daun tanaman. Bercak-bercak nekrotik akibat serangan menyebabkan jaringan daun dan sel-sel daun rusak tidak kehilangan fungsi fotosintesis. Selain serangan secara langsung, kutu kebul juga merupakan vektor virus kelompok Carla, Cowpea Mild Mottle Virus (CpMMV) atau Virus Belang Samar Kacang Tunggak. Perubahan iklim ekstreem juga mengarah beberapa Kelompok Virus Gemini yang digolongkan sebagai emerging virus diseases dengan vektor Kutu kebul pada komoditas kacang-kacangan juga menjadikan kacang tanah sebagai inang baru.

Kerusakan berganda akibat serangan kutu kebul adalah tertutupnya permukaan atas dan bawah daun dengan jamur jelaga sehingga daun kehilangan fungsi untuk fotosintesis.

Untuk mengatasi masalah hama kutu kebul, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi, Malang hasilkan inovasi varietas unggul baru kacang tanah yang tahan kutu kebul. Tiga varietas unggul baru yang telah dinyatakan lulus dan direkomendasikan untuk dilepas oleh Tim Penilai Pelepasan Varietas (TP2V) Kementan adalah varietas TASIA 1, TASIA 2, dan TASIA 3. Berdasarkan deskripsinya ketiga varietas tersebut sama-sama mempunyai keunggulan yaitu tahan terhadap hama kutu kebul.


Adapun harapan Kepala Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi, Malang Dr. Ir. Yuliantoro Baliadi, MS dengan hadirnya pilihan baru ketiga varietas kacang tanah tersebut petani kacang tanah kembali bergairah tanpa harus khawatir dengan serangan hama kutu kebul. Dipesankan juga bahwa tingkat ketahanan tersebut akan opmimal apabila petani juga menerapkan rekomendasi budidaya kacang tanah terpadu yang menciptakan kindisi agroekosistem yang tidak mendukung perkembangbiakan kutu kebul, pungkasnya. (Uje/YB/RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar